Harga Minyak Dunia Naik Imbas Pelonggaran Pembatasan Covid-19 di China

Brent dan WTI AS berada di jalur untuk kenaikan mingguan pertama mereka setelah tiga minggu berturut-turut mengalami penurunan.

http://www.btmagazine.nl
Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Harga minyak dunia mengalami kenaikan di perdagangan Asia pada hari ini, Jumat (2/12/2022) di tengah pelonggaran pembatasan Covid-19 di China. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nur Febriana Trinugraheni
 
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Harga minyak dunia mengalami kenaikan di perdagangan Asia pada hari ini, Jumat (2/12/2022) di tengah pelonggaran pembatasan Covid-19 di China.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik 20 sen atau 0,23 persen, menjadi 87,08 dolar AS per barel pada pukul 03:49 GMT, setelah sebelumnya jatuh ke level 86,59 dolar AS per barel.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 6 sen atau 0,07 persen, diperdagangkan pada level 81,28 dolar AS per barel, setelah tergelincir ke 80,88 dolar AS di awal sesi perdagangan.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Menjelang Pertemuan OPEC+

Brent dan WTI AS berada di jalur untuk kenaikan mingguan pertama mereka setelah tiga minggu berturut-turut mengalami penurunan.

China akan mengumumkan pelonggaran protokol karantina Covid-19 dalam beberapa hari mendatang dan pengurangan pengujian atau tes Covid-19 massal, menurut seorang sumber kepada Reuters.

Pelonggaran ini menjadi perubahan besar dalam kebijakan pemerintah China, setelah meluasnya protes dan kemarahan publik atas pembatasan Covid-19 yang ketat.

Direktur pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengatakan pada hari ini kalibrasi lebih lanjut dari strategi Covid-19 China akan sangat penting untuk mempertahankan dan menyeimbangkan pemulihan ekonomi.

"Permintaan minyak telah menderita di bawah langkah-langkah ketat untuk menahan virus, dengan permintaan minyak tersirat saat ini sebesar 13 juta barel per hari (bph), 1 juta barel per hari lebih rendah dari rata-rata," kata analis di perusahaan jasa keuangan ANZ Research dalam sebuah catatan.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Imbas Kekhawatiran Penurunan Permintaan dan Kenaikan Suku Bunga The Fed

Namun, pasar minyak dibebani oleh dolar AS, yang biasanya diperdagangkan terbalik dengan minyak, karena greenback turun dari posisi terendah 16 minggu terhadap sekelompok mata uang utama lainnya setelah data menunjukkan daya beli konsumen AS meningkat dengan solid di Oktober.

Sementara itu, pemerintah Uni Eropa (UE) untuk sementara menyetujui batas harga 60 dolar AS per barel untuk minyak lintas laut Rusia, dengan mekanisme penyesuaian untuk mempertahankan batas tersebut pada 5  persen di bawah harga pasar, menurut diplomat UE dan dokumen yang dilihat oleh Reuters.

Semua pemerintah UE harus menyetujui perjanjian tersebut dalam prosedur tertulis paling lambat hari ini. Polandia, yang telah mendorong agar batas itu serendah mungkin, belum mengonfirmasi akan mendukung kesepakatan itu, kata seorang diplomat UE.

Menurut riset ekuitas global BofA Global Research mengatakan dalam sebuah catatan, membatasi harga minyak mentah Rusia akan menyebabkan pembeli membayar lebih banyak untuk minyak di pasar global, dan mewakili "risiko kenaikan harga yang besar pada tahun 2023."

"Jika Rusia akhirnya memproduksi minyak secara signifikan lebih sedikit, itu dapat meningkatkan harga minyak," kata BoFa.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 1,12 Persen, Imbas Kembali Meningkatnya Kasus Covid-19 di China

BofA mengasumsikan produksi minyak Rusia akan mencapai 10 juta barel per hari pada 2023, sementara Badan Energi Internasional memperkirakan produksi akan mencapai 9,59 juta barel per hari.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved