Indonesiasentris Foundation Nilai Thayeb Gobel Layak Dijuluki Bapak Budaya Korporasi dan Teknologi
Alfi Rahmadi menilai Thayeb Mohammad Gobel layak diberikan julukan Bapak Budaya Teknologi dan Korporasi Indonesia.
Penulis:
Wahyu Gilang Putranto
Editor:
Siti Nurjannah Wulandari
TRIBUNNEWS.COM - Chairman Indonesiasentris Foundation, Alfi Rahmadi menilai Thayeb Mohammad Gobel layak diberikan julukan Bapak Budaya Teknologi dan Korporasi Indonesia.
Thayeb Mohammad Gobel merupakan pendiri Gobel Group yang merupakan pionir industri elektronik di Indonesia.
Thayeb Mohammad Gobel lahir di Gorontalo, 12 September 1930 dan wafat di Jakarta, 21 Juli 1984.
Thayeb Mohammad Gobel diketahui pernah mendapat penghargaan Satyalancana Pembangunan atas jasanya dalam mengembangkan industri elektronik di Indonesia.
“Dalam kepeloporan budaya teknologi dan korporasi, kami mencatat minimal dua poin kontribusi besar Thayeb Gobel bagi bangsa Indonesia."
"Beliau bingkai semuanya dengan pengamalan lima sila beserta nilai-nilai Pancasila dalam dunia industri Indonesia modern. Beliaulah yang meletakan fondasi bagaimana penerapan Pancasila dalam kehidupan industri,” ungkap Alfi Rahmadi kepada Tribunnews setelah acara bedah buku 'Praksis Pancasila, Pengamalan Ideologi di Perusahaan Gobel' (2024) karya Nasihin Masha di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (17/6/2025).

Diketahui, Thayeb Gobel mengawali budaya teknologi dan korporasi sejak tahun 1954 saat ia mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing di Cawang-Jakarta, untuk memproduksi merek radio “Tjawang” dan merakit Bemo, kendaraan roda tiga sebagai angkutan umum sekaligus traktor untuk mendukung mekanisasi pertanian.
Itulah embrio Gobel Group yang kemudian dikenal produsen barang elektronik Panasonic Indonesia melalui rintisan perusahaan patungan dengan Matsushita Electric Industrial (Panasonic Corporation) asal Jepang pada 1970.
Alfi Rahmadi mengungkapkan, jika buku 'Praksis Pancasila, Pengamalan Ideologi di Perusahaan Gobel' (2024) karya Nasihin Masha itu diperdalam, maka studi tentang Grup Gobel dan Thayeb Gobel dapat menjadi salah satu wakil penting dari negara Asia-Afrika pascazaman dekolonialisasi.
Terutama tentang manajemen stakeholders ekonomi politik melalui pengalaman dunia industri.
“Sejarah dunia mencatat, kekacauan politi, hukum, dan ekonomi dekolonialisasi pada era Perang Dingin disumbang dari ketidakmampuan rezim pemerintah bagaimana mendistribusikan akses dan kualitas sumber daya yang bernilai ekonomi selain disumbang dari lemahnya tata kelola SDM dan teknologi oleh internal kelembagaan industri swastanya,” papar Alfi.
Baca juga: Menaker Yassierli Waspadai Konflik Iran-Israel Timbulkan Gelombang PHK Industri Nasional
Melampaui praktik Humas, sambung Alfi, transformasi manajamen stakeholders adalah berbasis kinerja program atau proyek, manfaat teknologi, serta etika dan ekologi, yang melibatkan eksternalitas lembaga, terutama pihak yang terkena dampak proyek secara langsung.
Ruang lingkup eksternal dan internal manajemen stakeholder—dalam dunia industri dan bisnis—merupakan integrasi minat dan harapan para karyawan, pemasok, pelanggan, dan komunitas dari adanya program atau proyek suatu lembaga bisnis.
Lanjut Alfi, kepeloporan manajemen stakeholder Grup Gobel di jagat dunia industri Indonesia dinilai sangat nampak pada keputusan penandatanganan kerjasama bisnis PT Transistor Radio Manufacturing dan Matsushita Electric Industrial Co., Ltd pada tahun 1960.
“Keputusan itu super progresif, karena hasilnya luar biasa dahsyat,” catat Alfi.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.