Indonesiasentris Foundation Nilai Thayeb Gobel Layak Dijuluki Bapak Budaya Korporasi dan Teknologi
Alfi Rahmadi menilai Thayeb Mohammad Gobel layak diberikan julukan Bapak Budaya Teknologi dan Korporasi Indonesia.
Penulis:
Wahyu Gilang Putranto
Editor:
Siti Nurjannah Wulandari
Rahmadi yang menjabat Tenaga Ahli SDM dan Riset Manajemen Talenta Nasional Bappenas RI 2024 itu menilai keputusan itu mencatat berbagai pencapaian.
Termasuk membantu rakyat Indonesia menikmati perhelatan Asian Games IV yang diselenggarakan di Jakarta 1962 melalui TV layar hitam-putih yang mereka produksi.
"Dan mereka menjadi pelopor produsen TV berwarna di tanah air yang produk pertamanya diberikan secara simbolik kepada Ibu Negara Fatmawati Soekarno."
“Sejarah Indonesia modern mencatat, Asian Games 1962 merupakan setruman proyek Ganefo dan Connefo, sebagai bentuk perlawanan Bung Karno terhadap A.S dan Inggris sebagai pemimpin Blok Barat yang ditandai keluarnya Indonesia dari keanggotan PBB,” papar Alfi.
Dari berbagai peristiwa politik hukum dan ekonomi politik dekade 1960-1970an di tanah air, sambung Alfi, terasa Thayeb Gobel telah pasang ‘kuda-kuda’ sejak awal untuk merespon peristiwa bisnis penting atau potensi kritis.
“Beliau seolah menyediakan Grup Gobel sebagai tempat konfirmasi atas situasi karut-marut ekonomi politik zaman Bung Karno dan pemerintahan awal Soeharto, bahwa manajemen stakeholder dunia industri dalam relasi kuasa mesti berpijak justru dari nilai-nilai Pancasila sebagaimana diamalkan Thayeb Gobel dan diterapkan kali pertama di Gobel Group,” ujar Alfi.
Kepeloporan Thayeb Gobel dalam budaya teknologi dan korporasi, sebut Alfi Rahmadi, sangat tampak pada keberlanjutan kemandirian dan kesejahteraan dalam ekosistem industri generasi pertama di Indonesia.
Beberapa studi budaya korporasi di dunia Barat dekade 1980-2000an menunjukan, bahwa kesuksesan berkelanjutan beberapa perusahaan nasional dan transnasional yang bertahan dari badai krisis dan kompetisi bisnis ternyata tidak didominasi dari kualitas secara angka-angka (numerikal) bisnis atau aspek profitabilitas, tetapi budaya organisasi.
Alfi mencontohkan, Southwest Airlines, Wal-Mart, Tyson Foods, Circuit City, dan Plenum 3 Publishing, bukan pemimpin utama dalam pangsa pasar masing-masing sektor, tetapi mereka mengungguli semua perusahaan yang ada dalam persaingan pasar sektoralnya. Bahkan tanpa keunggulan kompetitif apa pun.
“Pembeda utama mereka dengan perusahaan lain yang bangkrut atau diakuisisi sebagai keunggulan komparatif mereka adalah budaya organisasinya,” papar Alfi.
Budaya organisasi tersebut seringkali tercipta dari pendiri perusahaan yang mencerminkan ketajaman visi yang diusung dam kemudian dikembangkan secara sadar dan sistematis.
“Ini adalah proses untuk memulai perubahan budaya seperti cakrawala berpikir, mental dan karakter, yang digunakan dalam intervensi pengembangan organisasi,” papar Alfi.
"Thayeb Gobel mentransmisi nilai-nilai Pancasila pada mega proyek tersebut dalam manajemen internalnya; pada gilirannya kelak mempengaruhi sistem ketahanan nasional, yang dia mulai dari lingkungan keluarga besar Grup Gobel,” sambung Alfi.
Sementara itu, ia juga mengatakan putra Thayeb Gobel, Rachmat Gobel dalam paparannya saat buku ini dibedah di Universitas Muhammadiyah Jakarta pada 24 Oktober tahun lalu, menyebut sang ayah menolak tawaran Bung Karno untuk menjadi jenderal militer usai Revolusi Indonesia.
Thayeb Gobel disebut lebih memilih menjadi ‘jenderal bisnis', suatu pilihan yang tak banyak diputuskan bagi kaum Revolusi Indonesia zaman itu.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.