Minggu, 31 Agustus 2025

Trump Terapkan Tarif Timbal Balik

Dampak Tarif Resiprokal Amerika: 1,2 Juta Lapangan Kerja Hilang, Nilai Ekspor RI Susut Rp105 Triliun

Vietnam berhasil menghindari tarif serupa dengan pendekatan diplomasi yang konsisten dan komitmen investasi nyata di AS.

TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
TARIF IMPOR TRUMP - Ribuan buruh pulang kerja di salah satu pabrik di Jalan Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat. Penerapan tarif impor 32 persen Amerika dapat menimbulkan kehilangan serapan kerja di Indonesia hingga 1,2 juta orang. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan dampak pengenaan tarif resiprokal 32 persen Amerika Serikat ke Indonesia akan berpengaruh terhadap serapan tenaga kerja di Tanah Air.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Indonesia resmi dikenakan tarif resiprokal (timbal balik) ke Indonesia sebesar 32 persen.

Mulai 1 Agustus 2025, Pemerintahan AS akan memberlakukan tarif impor sebesar 32 persen terhadap seluruh produk asal Indonesia.

Baca juga: Prabowo Diminta Reshuffle Kabinet Imbas Menterinya Gagal Negosiasi Tarif Impor Amerika

Menurut studi yang dilakukan CELIOS, pengenaan tarif ini dapat menimbulkan kehilangan serapan kerja hingga 1,2 juta orang.

Hal itu karena pengenaan tarif ini berimbas pada sektor padat karya seperti pakaian jadi, alas kaki, beserta produk ekspor lain yang signifikan.

Selain itu, studi juga menunjukkan estimasi penurunan nilai ekspor Indonesia sebesar Rp 105,98 triliun dan pendapatan masyarakat terkoreksi Rp 143,87 triliun.

Dengan berlakunya tarif resiprokal per 1 Agustus maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menyentuh di level 4,7-4,8 persen year on year.

CELIOS pun menilai pengenaan tarif terhadap Indonesia dari Amerika Serikat yang tetap sebesar 32 persen ini sebagai lemahnya arah kebijakan luar negeri dan ekonomi Indonesia.

Menurut Peneliti CELIOS Yeta Purnama, koordinasi antar kementerian dalam menghadapi krisis ini tampak lemah dan tidak selaras dengan kebutuhan strategis negara.

“Indonesia butuh menteri-menteri yang berani menyuarakan kepentingan publik, bukan sekadar menjalankan instruksi politik," katanya dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (9/7/2025).

"Pembaruan arah kebijakan hanya bisa terjadi bila orang-orangnya juga diperbarui,” ujar Yeta.

Sebagai perbandingan, Vietnam berhasil menghindari tarif serupa dengan pendekatan diplomasi yang konsisten dan komitmen investasi nyata di AS.

Indonesia justru terjebak dalam pendekatan reaktif, penuh simbol, tanpa pondasi diplomatik dan kebijakan yang kuat.

“Saat tarif diumumkan, Indonesia tidak punya wakil penuh di Washington. Di saat negara seperti Vietnam memperkuat diplomasi dan produksi mereka di AS, kita justru membiarkan celah ini terbuka lebar,” kata Direktur Studi China-Indonesia CELIOS Muhammad Zulfikar Rakhmat.

CELIOS pun mendesak agar Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan kabinet berdasarkan kompetensi dan ketegasan arah kebijakan.

Halaman
12

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

asia sustainability impact consortium

Follow our mission at www.esgpositiveimpactconsortium.asia

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan