Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan Jadi Penghasil Kemenyan Terbesar Dunia
Tapanuli Utara menjadi salah satu penghasil kemenyan terbesar dunia, dengan kontribusi sekitar 80 persen dari total pasokan global.
TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat hilirisasi komoditas kemenyan sebagai upaya meningkatkan nilai tambah Industri Kecil dan Menengah (IKM) minyak atsiri di Indonesia.
Sebagai langkah awal, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA) melalui Direktorat Industri Kimia, Sandang dan Kerajinan (IKM KSK) berkoordinasi dengan Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan (IHHP), serta dinas terkait di Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan.
Dua kabupaten ini menjadi daerah penghasil kemenyan terbesar dunia, dengan kontribusi sekitar 80 persen dari total pasokan global.
"Koordinasi ini bertujuan untuk memetakan kondisi lapangan, mulai dari jenis tanaman, proses penyulingan, rantai pasok, hingga pembinaan yang telah berjalan. Dengan begitu, kami dapat mengidentifikasi aspek yang perlu diperkuat melalui program pembinaan Kemenperin," terang Direktur IKM KSK Budi Setiawan dalam keterangan, Selasa (16/9/2025).
Budi menambahkan, ke depan Ditjen IKMA akan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan dalam penguatan ekosistem hilirisasi kemenyan.
Upaya tersebut mencakup keterlibatan satuan kerja Kemenperin, kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, hingga asosiasi industri.
Baca juga: Tak Punya Legalitas, Bappebti Blokir 225 Situs Perdagangan Berjangka Komoditi Ilegal
"Dengan dukungan kebijakan yang tepat, kolaborasi lintas sektor, dan inovasi IKM, pengolahan minyak atsiri dari kemenyan akan menjadi penggerak baru hilirisasi berbasis nilai tambah lokal yang siap menembus pasar global," tutur Budi.
Kemenyan asal Tapanuli Utara sendiri telah meraih pengakuan penting pada 2025 dengan memperoleh sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan HAM.
Baca juga: Fakta Kemenyan: Bukan Aroma Mistis, tapi Keajaiban dari Alam Indonesia
Sertifikat tersebut menjadi bukti bahwa kemenyan dari wilayah ini memiliki karakteristik, kualitas dan reputasi yang khas, sekaligus memberikan perlindungan hukum serta nilai ekonomi lebih tinggi bagi masyarakat setempat.
Menurut Trademap.org, pada 2024 ekspor produk getah alam, resin dan oleoresin Indonesia, termasuk kemenyan, mencapai 55,5 juta dolar AS dengan volume 43.685 ton, atau setara 1.270,45 dolar AS per ton.
Sementara itu, ekspor produk hilirisasi berupa minyak atsiri dan turunannya tercatat 42,3 juta dolar AS dengan volume sekitar 1.776 ton atau bernilai 23.817,56 dolar AS per ton.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Panen-kemenyan-OK.jpg)