Danantara: Satu Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Butuh Dana Rp 3,3 Triliun
Danantara telah menetapkan harga sebesar 20 sen per kilowatt hour (kWh) dari listrik yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Patria Sjahrir mengungkap satu proyek pengolahan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy (WtE) membutuhkan dana sekitar 150 hingga 200 juta dolar Amerika Serikat (AS).
Jika dikonversi ke rupiah, berarti satu proyek WtE membutuhkan sekitar Rp 2,4 triliun hingga Rp 3,3 triliun (kurs Rp 16.583 dolar pers AS).
Secara total, Danantara akan menggarap 33 proyek WtE. Pada akhir tahun ini, ada 10 proyek terlebih dahulu yang akan dimulai di lima kota berbeda.
Baca juga: Sampah di Kota Besar Capai 1000 Ton Perhari, Menteri LH: Ubah jadi Sumber Energi
"Ini akan menjadi proyek waste to energy terbesar di dunia," kata Pandu dalam acara Forbes Global CEO Conference di Jakarta Selatan, Rabu (15/10/2025).
Pandu mengatakan Danantara telah menetapkan harga sebesar 20 sen per kilowatt hour (kWh) dari listrik yang dihasilkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Angka 20 sen tersebut didapat dari dihilangkannya tipping fee atau biaya yang dibayarkan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) kepada pihak yang mengelola sampah.
"Kami senang bisa menjadi mitra pembiayaan bagi para mitra teknis. Kami bisa menjadi pemegang saham minoritas maupun mayoritas. Ini sifatnya sangat terbuka," ujar Pandu.
Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan proyek WtE membutuhkan investasi sebesar Rp 91 triliun.
"Total investasinya itu mencapai kurang lebih Rp 91 triliun untuk kurang lebih di 33 kota," katanya ketika ditemui di sela-sela acara Indonesia International Sustainability Forum 2025 di Jakarta Selatan, Jumat (10/10/2025).
Jumlah investasi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pengolahan 1.000 ton sampah per hari di tiap kota.
Di acara Indonesia International Sustainability Forum 2025 ini, Rosan menyebut sudah ada investor yang menunjukkan minat untuk terlibat.
"Tadi saya disampaikan yang ingin ikut program itu terdaftar sudah mencapai 192 perusahaan untuk program Waste to Energy yang baru saja kita sampaikan ini," ucap Rosan.
Rosan pun menegaskan bahwa tiap kota tidak dibatasi hanya memiliki satu fasilitas pengolahan sampah jadi energi.
Rosan mencontohkan Jakarta yang bisa memiliki tiga hingga empat fasilitas karena volume sampah per harinya yang besar.
"Jakarta ini per harinya itu 8 ribu ton sampah. Sedangkan tumpukan sampahnya itu kalau tidak dilakukan perubahan yang signifikan, itu sudah 55 juta ton. Jadi kalau kita kasih ilustrasi, itu kata Bapak Gubernur, sama dengan 16.500 lapangan bola besarnya," ujar Rosan.
"Saya bertemu langsung dengan Bapak Gubernur dan jajarannya, itu potensi akan minimum 3-4 titik," sambungnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/SAMPAH-JADI-ENERGI-Chief-Investment-Officer-CIO-Danantara-Indonesia-Pandu-Patria-Sjahrir.jpg)