Proyek Kereta Cepat
Polemik Utang Proyek Kereta Cepat, Pengamat: KAI Ambil Alih Whoosh Bukanlah Solusi, KAI Bisa Colaps
Pengamat BUMN Herry Gunawan menilai pengambilalihan aset proyek Kereta Cepat Whoosh oleh pemerintah bukanlah solusi atas masalah utang proyek Whoosh.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Pengamat BUMN sekaligus Direktur Next Indonesia, Herry Gunawan ikut menanggapi soal masalah utang pembiayaan proyek Kereta Cepat Indonesia–China (KCIC) atau Whoosh yang kini jadi sorotan publik.
Diketahui dalam penanganan masalah utang proyek Kereta Cepat Whoosh ini, muncul opsi pengambilalihan aset Whoosh oleh pemerintah.
Menanggapi opsi tersebut, Herry menilai pengambilalihan aset Whoosh oleh pemerintah ini bukanlah solusi yang tepat.
Karena faktanya, selain meninggalkan utang yang besar, proyek Whoosh ini terus merugi.
Lantas Herry beranggapan, untuk apa pemerintah mengambil barang yang sudah tidak bisa dipakai.
"Tapi enggak bisa kalau misalkan, udah diambil aja (aset Whoosh) oleh pemerintah, ya pemerintah ngapain ngambil barang yang enggak kepakai gitu."
"Seolah-olah bengkel gitu pemerintah kita. Pemerintah memang tukang-tukang apa namanya, ketok magic itu," kata Herry dalam tayangan Program 'Sapa Indonesia Pagi' Kompas TV, Kamis (16/10/2025).
Lebih lanjut Herry menyebut, jika nantinya PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang merupakan BUMN ini mengambil alih Whoosh, hasilnya bukan masalah utang proyek Kereta Cepat yang terselesaikan, tapi justru KAI bisa kolaps.
Pasalnya saat ini PT KAI memiliki saham di proyek Kereta Cepat Whoosh sekitar 58 persen.
Dengan kondisi Whoosh sekarang, Herry menilai pelan-pelan saham Whoosh yang dimiliki pihak lain ini akan terdilusi dan jumlah saham KAI akan semakin banyak
Terdilusi berarti persentase kepemilikan berkurang karena adanya penambahan jumlah saham di perusahaan, meskipun jumlah lembar saham yang dimiliki investor tidak berubah.
Baca juga: Pengamat Semangati Danantara Bayar Utang Whoosh, Minta Tak Bergantung ke Pemerintah: Pikirkan Solusi
Jika saham KAI di Whoosh semakin banyak, lalu KAI dibiarkan menanggung beban Whoosh sendiri yang terus merugi, ditambah dengan kondisi utang yang dimiliki Whoosh, maka KAI tidak bisa melakukan investasi.
"KAI kolaps (jika ambil alih Whoosh). Kalau KAI disuruh tanggung, sekarang KAI ini awalnya punya saham itu 51 persen. Sekarang ini kan karena KAI sudah tambah modal itu sekarang kan sahamnya 58 persen. Ini pelan-pelan yang lain tuh terdilusi kan. Jadi KAI itu akan semakin banyak."
"Ketika KAI dibiarkan sendiri kemudian dia harus menanggung beban Kereta Cepat Whoosh, yang ketika beroperasi aja sudah merah (rugi), kemudian ditambah dengan utangnya, KAI itu yang kemudian itu nanti KAI itu enggak bisa lagi investasi," terang Herry.
Selanjutnya jika KAI tidak lagi memiliki kemampuan untuk investasi, maka hal itu akan langsung berdampak kepada masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Peningkatan-Perjalanan-Whoosh-Selama-Lebaran-2025_20250405_171558.jpg)