Setahun Pemerintahan Prabowo dan Gibran
Presiden Prabowo dan Jajarannya Diminta Ubah Mesin Pertumbuhan Ekonomi dari Komoditas ke Manufaktur
Modernisasi ekonomi juga perlu dilakukan seiring dengan deregulasi dan transformasi agar jalur pertumbuhan tidak tersumbat.
Ringkasan Berita:
- Percepatan pertumbuhan ekonomi masih dibutuhkan agar target menjadi negara maju pada 2045 dapat tercapai.
- Transformasi struktural diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas.
- Indonesia harus terus memperkuat produktivitas dan efisiensi agar dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perekonomian Indonesia dinilai telah menunjukkan kemajuan sepanjang tahun ini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Akan tetapi, langkah percepatan pertumbuhan ekonomi masih dibutuhkan agar target menjadi negara maju pada 2045 dapat tercapai.
Tim Asistensi Menko Perekonomian sekaligus Ekonom Senior Raden Pardede mengatakan, perubahan model pertumbuhan menjadi hal mendesak, dengan memperkuat fondasi ekonomi yang mampu mendorong pertumbuhan di kisaran 6-8 persen secara berkelanjutan.
Baca juga: Purbaya Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Tak Merata Bakal Munculkan Demo Masyarakat
Transformasi struktural diperlukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas dan memperkuat sektor manufaktur, serta jasa sebagai mesin utama pertumbuhan.
"Bahwa kita benar-benar (mengandalkan) komoditas, iya. Tapi kita nggak bisa tergantung kepada komoditas. Kita harus sektor manufaktur atau jasa," ujar Raden dalam acara Forum Diskusi Capaian Satu Tahun Kinerja Kabinet Merah Putih di Bidang Perekonomian, di Gambir, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2025).
Ia mencotohkan negara-negara seperti Vietnam, Malaysia dan Tiongkok menjadi contoh keberhasilan dalam mempercepat kemajuan ekonomi melalui peningkatan produktivitas, efisiensi dan kemajuan teknologi, bukan hanya mengandalkan sumber daya alam.
"Mereka tidak mengandalkan natural resources. Buat kita, kita harus ambil natural resources atau sumber daya alam itu sebagai bonus. Bukan itu menjadi utamanya. Itu tambahan saja. Jangan itu menjadi andalan," imbuh Raden.
Raden menegaskan, untuk mencapai cita-cita 2045, Indonesia harus terus memperkuat produktivitas dan efisiensi agar dapat keluar dari jebakan pendapatan menengah.
Terlebih tanpa lompatan produktivitas, Indonesia dinilai hanya berada dalam posisi middle income atau yang biasa disebut middle income trap.
"Jadi memang produktivitas, peningkatan efisiensi, peningkatan efektivitas, peningkatan productivity, peningkatan di teknologi progress adalah merupakan prasyarat untuk kita bisa ke sana nantinya," kata Raden.
Raden menjelaskan, peningkatan produktivitas harus dibarengi dengan pembaruan sistem ekonomi secara menyeluruh. Ia menekankan pentingnya meng-upgrade mesin pertumbuhan agar lebih efisien dan berdaya saing.
"Meng-upgrade mesin pertumbuhan kita. Itu yang disebutkan kreatif destruction. Bahwa mesin yang lama itu ujungnya harus diberhentikan, diganti dengan mesin yang baru. Itulah yang menaikkan produktivitas secara terus-menerus," tuturnya.
Ia menambahkan, modernisasi ekonomi juga perlu dilakukan seiring dengan deregulasi dan transformasi agar jalur pertumbuhan tidak tersumbat.
Lebih lanjut, ia menyebut hilirisasi berbasis komoditas merupakan model pertumbuhan lama yang harus diperbarui.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Prabowo-Subianto-Wapres-Gibran-Mensesneg-Prasetyo-Hadi-dan-Menko-PMK-Muhaimin.jpg)