Senin, 13 April 2026

Bos Freeport Ungkap Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Katoda Tembaga Nomor Dua Dunia

Tiongkok saat ini menjadi produsen katoda tembaga terbesar di dunia dengan kapasitas mencapai 12 juta ton per tahun

Penulis: Lita Febriani
Editor: Sanusi
Lita Febriani
CEO CONNECT - Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas dalam Forum CEO Connect sesi ketiga, bagian dari rangkaian 16th Kompas100 CEO Forum 2025 powered by PLN, yang digelar di Bentara Budaya Art Gallery, Palmerah, Jakarta, Selasa (21/10/2025). (Tribunnews.com/Lita Febriani). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia yang memiliki banyak sumber daya alam, berpeluang besar menjadi produsen katoda tembaga nomor dua di dunia setelah Tiongkok

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, Tiongkok saat ini menjadi produsen katoda tembaga terbesar di dunia dengan kapasitas mencapai 12 juta ton per tahun. Padahal Tiongkok tidak memiliki tambang tembaga sendiri. 

Baca juga: Pemerintah Tambah 12 Persen Saham Freeport, Ini Manfaatnya

"Tiongkok paling besar produksinya 12 juta ton, padahal dia enggak punya tambang. Sini (Indonesia), negara tambang tembaga," tutur Tony dalam acara 16th Kompas100 CEO Forum 2025 powered by PLN, yang digelar di Bentara Budaya Art Gallery, Palmerah, Jakarta, Selasa (21/10/2025).

Sementara itu, Chile yang dikenal sebagai negara tambang tembaga hanya memproduksi sekitar 2 juta ton katoda tembaga. Hal tersebut lantaran sebagian besar konsentratnya diekspor ke Tiongkok dan Amerika Serikat. 

Kemudian ada Kongo juga merupakan produsen tembaga besar, tetapi produksinya tidak sampai 2 juta ton. Selain itu ada Jepang, yang juga tidak memiliki tambang tembaga, tapi mampu memproduksi sekitar 1,5 juta ton katoda tembaga, dengan bahan baku yang diimpor dari Chile dan Kongo. Rusia sendiri menghasilkan sekitar 1 juta ton katoda tembaga per tahun.

Tony menilai, potensi Indonesia sangat besar untuk menyalip negara-negara tersebut, mengingat sumber daya tembaga yang melimpah dan kapasitas produksi yang terus bertambah. 

"Kami, PTFI kalau dengan Amman Mineral, itu bisa produksi sampai 1,1 juta ton. Berarti kita akan nomor 5 dunia, apalagi ini baru dari 2 perusahaan. Kalau yang 3 lagi on the up dan kemudian jalan, kita akan jadi rajanya katoda tembaga dunia. Setelah Cina ya, yang enggak punya tambang tembaga," ucap Tony.

Ia menjelaskan, saat ini Freeport telah memiliki smelter di Gresik yang telah beroperasi sejak 1997 dan bekerja sama dengan Jepang melalui PT Smelting. 

"Sampai 2023, 2024, itu 50-60 persen masih ekspor katoda tembaga. Ini belum menghitung smelter barunya PTFI yang memproduksi hampir dua kali tiga PT Smelting. Kami di tahun 2025 sudah mulai produksi, walaupun baru bulan Juli dan sempat berhenti pada bulan September karena ada kecelakaan di tambang," ujar Tony.

Menurutnya, produksi dari smelter tersebut mencapai sekitar 7.000 ton, namun konsumsi domestik baru sekitar 800 ton. 

"Yang di konsumsi domestik hanya 800 ton. Kenapa? Karena yang sudah lama saja, si PT Smelting ini 90 persen di ekspor dan kami produksi full. Kemungkinan besar 100 persen akan ekspor," imbuhnya. 

Tony berharap, hilirisasi tembaga di dalam negeri dapat terus dipercepat agar hasil produksi katoda tembaga bisa dimanfaatkan untuk industri nasional. 

Baca juga: 5 Lagi Rekan Kerja PT Freeport Korban Luncuran Material Basah Ditemukan, 7 Korban Seluruhnya Tewas

Ia menambahkan, dari 80.000 ton katoda tembaga yang akan diproduksi PT Freeport dan PT Smelting, jumlah tersebut dapat mendukung produksi hingga 8 juta kendaraan listrik per tahun, atau 160 gigawatt tenaga listrik matahari, 480 gigawatt tenaga air, maupun bahan baku setara 2.000 gedung Empire State Building dalam satu tahun. 

"Ini sebenarnya adalah momentum yang tepat, bukan hanya untuk kita di dalam negeri, tapi juga agar industri yang lebih besar bisa dibangun oleh negeri, dan kemudian konsumen akhirnya bisa diekspor," jelas Tony.

Potensi menjadi raja produsen katoda tembaga juga didukung dengan permintaan global terhadap tembaga yang terus meningkat seiring dengan transisi menuju energi terbarukan. 

"Saya minggu lalu dari London, di London Metal Exchange, yang dibicarakan semakin besar adalah tembaga. Kalau nikel dibicarakannya sudah berlimpah ruah, sementara tembaga demand-nya naik terus. Karena Renewable Energy Transition," ungkapnya.

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved