Semakin Dekati Rp 17 Ribu, Rupiah Melemah ke Rp 16.955 Per Dolar AS
Pada perdagangan Senin (19/1/2026) sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 68 poin ke Rp 16.955 dari Rp 16.896 per dolar Amerika Serikat
Ringkasan Berita:
- Rencana pemerintah menerapkan peraturan yang tidak lazim untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen menjadi sentimen negatif terhadap rupiah
- Rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat memberikan bantalan bagi rupiah
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada perdagangan Senin (19/1/2026) sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 68 poin ke Rp 16.955 dari Rp 16.896 per dolar Amerika Serikat (AS).
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkap pelemahan ini sejalan dengan indeks dolar AS yang menguat.
Dari sisi eksternal, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas itu mengungkap langkah Presiden AS Donald Trump sebagai satu dari sekian penyebabnya.
Baca juga: Pagi Ini, Nilai Tukar Rupiah Makin Merosot ke Level Rp16.910 per Dolar AS
Langkah tersebut adalah rencana Trump memberlakukan tarif baru pada delapan negara Eropa yang menentang rencananya mengakuisisi Greenland.
"Trump mengatakan AS akan mengenakan tarif 10 persen pada barang-barang dari negara-negara yang terkena dampak mulai 1 Februari," kata Ibrahim dalam keterangannya pada Selasa ini.
Negara-negara yang menjadi target termasuk Prancis, Jerman, dan Inggris, bersama dengan beberapa negara Nordik dan Eropa Utara.
Pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas.
Faktor berikutnya adalah data pasar tenaga kerja AS yang tidak selemah yang diperkirakan.
Oleh karena itu, para pedagang menjadi ragu-ragu apakah Federal Reserve atau The Fed akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini atau tidak.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 16.896 Pada Kamis 15 Januari 2026, Ini Penyebabnya
"Kontrak berjangka dana Fed saat ini telah menunda ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya ke bulan Juni dan September dari perkiraan sebelumnya di bulan Januari dan April," ujar Ibrahim.
Ia menyebut bank sentral AS dipandang dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Faktor dari benua Asia, data pada hari Senin menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0 persen pada tahun lalu.
Angka tersebut memenuhi target pemerintah dengan merebut pangsa permintaan global barang yang mencapai rekor untuk mengimbangi konsumsi domestik yang lemah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/nilai-tukar-rupiah-melemah_20240124_212250.jpg)