Gejolak Rupiah
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 18.049 per Dolar AS, Besok Diprediksi Masih Tertekan
rupiah ditutup turun 82 poin ke level Rp18.049 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga 90 poin selama perdagangan berlangsung.
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah melemah ke Rp18.049 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026), dipengaruhi faktor global dan domestik.
- Tekanan berasal dari penguatan dolar, harga minyak tinggi, serta inflasi dalam negeri yang naik ke 3,08 persen.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026).
Pengamat ekonomi dan pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah ditutup turun 82 poin ke level Rp18.049 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga 90 poin selama perdagangan berlangsung.
Pada penutupan hari sebelumnya, rupiah masih berada di posisi Rp17.966 per dolar AS. Untuk perdagangan Jumat (5/6/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berfluktuasi dan berpotensi melemah ke kisaran Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS.
Baca juga: Menkeu Purbaya: Rupiah Rp18.000 per Dolar AS Masih di Bawah Kendali Bank Indonesia
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp. 18.050- Rp.18.120," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, investor masih mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar juga didorong oleh data ekonomi Amerika Serikat yang masih cukup kuat. Data terbaru menunjukkan perusahaan swasta di AS menambah 122.000 lapangan kerja pada Mei 2026, lebih tinggi dari perkiraan pasar.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menyoroti sejumlah tantangan ekonomi. Tingginya harga minyak dunia dinilai berpotensi menambah beban anggaran pemerintah dan memperbesar risiko defisit fiskal.
Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia mulai menyusut akibat melonjaknya impor minyak yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekspor.
Baca juga: Menkeu Purbaya Tolak Rapat Darurat KSSK, Serahkan Manuver Rupiah Rp 18.000 ke BI
"Kekhawatiran yang meningkat setelah harga minyak mentah yang tinggi memicu risiko defisit fiskal mendekati 3 persen dan keseimbangan eksternal, membuat kekhawatiran akan adanya intervensi negara yang lebih besar dalam komoditas, dan kegelisahan atas kemungkinan reklasifikasi MSCI terhadao pasar modal yang sampai saat ini masih belum ada keputusan pasti," tegas dia.
Inflasi Indonesia pada Mei 2026 juga tercatat naik menjadi 3,08 persen. Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga sejumlah barang impor seiring pelemahan nilai tukar rupiah.
Pasar juga mencermati keputusan lembaga pemeringkat internasional Moody's yang memberikan peringkat investasi Baa2 kepada PT Danantara Investment Management. Namun, Moody's memberikan prospek (outlook) negatif terhadap peringkat tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Rupiah-Ditutup-Menguat-Rp16768-per-USD-Sore-Ini_20260127_214354.jpg)