Kadin Ungkap Wacana BUMN Tekstil Bisa Jadi Penopang Industri Nasional
Pembentukan BUMN tekstil dapat membantu memperkuat industri nasional jika memang benar-benar diarahkan untuk memperbaiki masalah
Ringkasan Berita:
- Pembentukan BUMN tekstil dapat menjadi instrumen strategis apabila difokuskan untuk memperbaiki struktur industri yang saat ini tertekan oleh berbagai faktor
- Dengan skala usaha yang besar serta dukungan penuh dari negara, BUMN tekstil berpeluang menjadi penopang produksi dalam negeri
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rencana pemerintah membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor tekstil dinilai berpotensi memperkuat daya saing industri nasional, asalkan diarahkan untuk menjawab persoalan mendasar yang selama ini membebani industri tersebut.
Wacana ini pertama kali disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dengan rencana dukungan pendanaan awal dari Danantara Indonesia senilai US$ 6 miliar atau sekitar Rp 101 triliun.
Baca juga: Pemerintah Dirikan BUMN Tekstil Lewat Danantara Usai Sritex Pailit
Wakil Ketua Umum Kadin Perindustrian Saleh Husin menilai, pembentukan BUMN tekstil dapat menjadi instrumen strategis apabila difokuskan untuk memperbaiki struktur industri yang saat ini tertekan oleh berbagai faktor.
"Pembentukan BUMN tekstil dapat membantu memperkuat industri nasional jika memang benar-benar diarahkan untuk memperbaiki masalah mendasar yang selama ini membuat industri tekstil tertekan. Salah satu masalah utama adalah banjirnya impor, baik yang legal maupun ilegal, yang membuat produk dalam negeri kalah harga," tutur Saleh kepada Wartawan di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, dengan skala usaha yang besar serta dukungan penuh dari negara, BUMN tekstil berpeluang menjadi penopang produksi dalam negeri.
Baca juga: Penuhi Kebutuhan Primer Masyarakat, Legislator Dukung Ide Hidupkan BUMN Tekstil
Peran tersebut mencakup menjaga pasokan bahan baku lokal sekaligus menekan biaya produksi melalui penerapan efisiensi energi dan pemanfaatan teknologi yang lebih modern.
Selain fungsi produksi, keberadaan BUMN tekstil juga dinilai penting sebagai contoh penerapan transformasi industri.
"Dengan skala besar dan dukungan negara, BUMN tekstil bisa menjadi penopang produksi dalam negeri, menjaga pasokan bahan baku lokal, dan menekan biaya produksi melalui efisiensi energi dan teknologi," terang Saleh.
Saleh menambahkan, BUMN tekstil seharusnya tidak hanya berorientasi pada kapasitas produksi, tetapi juga menjadi role model dalam penggunaan mesin modern, energi yang lebih murah dan ramah lingkungan, serta sistem kerja yang lebih produktif.
"Selain itu, BUMN bisa menjadi contoh penerapan mesin modern, penggunaan energi yang lebih murah dan ramah lingkungan, serta sistem kerja yang lebih produktif," ungkapnya.
Jika transformasi tersebut berjalan konsisten, Saleh meyakini citra industri tekstil nasional juga akan berubah. Industri ini tidak lagi dipandang sebagai sektor yang mengandalkan upah tenaga kerja murah, melainkan sebagai industri yang bertransformasi menuju efisiensi, kualitas produk, dan kepastian pasar domestik.
"Jika ini berhasil, maka industri tekstil tidak lagi dipandang sebagai sunset industry, tetapi sebagai industri yang ‘berubah bentuk’, tidak lagi hanya mengandalkan upah tenaga kerja murah, melainkan efisiensi, kualitas dan kepastian pasar domestik," ucap Saleh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/saleh-husin-baja-d.jpg)