Pembangunan 100 Gudang Baru Bulog Masih Terganjal Inpres yang Belum Terbit
Gudang diprioritaskan di wilayah 3T, daerah tanpa gudang, serta sentra produksi beras dan jagung.
Ringkasan Berita:
- Perum Bulog masih menunggu terbitnya Instruksi Presiden untuk memulai pembangunan 100 gudang baru.
- Gudang diprioritaskan di wilayah 3T, daerah tanpa gudang, serta sentra produksi beras dan jagung.
- Proyek senilai Rp5 triliun dari APBN ini dilengkapi fasilitas RMU, dryer, dan silo guna memperkuat logistik pangan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rencana Perum Bulog membangun 100 gudang baru masih menunggu Instruksi Presiden (Inpres).
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebutkan setelah Inpres terbit, barulah pihaknya dapat merencanakan peletakan batu pertama (groundbreaking).
"Kami menunggu Inpresnya dulu turun, baru nanti kami rencanakan groundbreaking-nya," kata Rizal dalam konferensi pers di D'GAT55, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026).
Baca juga: 100 Ribu Ton Beras di Gudang Bulog Terancam Tak Layak Konsumsi, Negara Bisa Rugi Rp 1,2 T
Rizal menjelaskan, 100 gudang tersebut akan diprioritaskan di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) seperti pulau-pulau terpencil.
Pulau terpencil diprioritaskan agar masyarakat tidak kesulitan mendapatkan beras saat kondisi ombak tinggi yang menghambat logistik.
Lokasi berikutnya yang dipilih adalah kabupaten/kota yang belum memiliki gudang.
Rizal mencontohkan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tamiang di Aceh yang rencananya mulai dibangun tahun ini gudangnya.
Ia menilai keberadaan gudang penting karena berkaca pada saat penanganan pasca-banjir di Aceh, bantuan beras harus diambil dari daerah sekitar seperti Langsa dan Takengon.
Kemudian, di daerah yang memiliki sawah, contohnya seperti di Morotai yang memiliki sawah skala kecil, Bulog tidak hanya membangun gudang.
Mereka juga akan menambah fasilitas seperti dryer dan Rice Milling Unit (RMU) guna mendukung pengolahan padi di sana.
Dengan fasilitas tersebut, masyarakat tidak perlu keluar daerah untuk memproses padi menjadi beras, sehingga harga tetap terjangkau.
Sementara itu, untuk di daerah sentra produksi beras seperti NTB, Lampung, Jawa, dan Sulawesi Selatan, jika kabupaten/kotanya belum memiliki gudang, maka akan dibangun juga ditambah fasilitas dryer dan RMU, serta dilengkapi silo untuk penyimpanan Gabah Kering Giling dalam jumlah besar.
"Tujuannya apa? Supaya meningkatkan kualitas dan meningkatkan pelayanan Bulog kepada masyarakat," ujar Rizal.
100 gudang Bulog ini tidak hanya diperuntukkan untuk menyimpan beras, tetapi juga jagung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ahmad-Rizal-Ramdhani-9899483-bulog.jpg)