Ekonom: Masuknya Thomas ke BI Bukan Politisasi, Tapi Tuntutan Zaman
Thomas Djiwandono resmi ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru menggantikan Juda Agung.
Ringkasan Berita:
- Ekonom menilai terpilihnya Thomas Djiwandono di BI bukan politisasi.
- Latar belakang fiskal dinilai relevan di era koordinasi kebijakan.
- Sinergi fiskal–moneter penting jaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) bukan bentuk politisasi di bank sentral.
Menurut dia, langkah tersebut justru mencerminkan adaptasi kelembagaan BI terhadap tantangan ekonomi global yang semakin kompleks.
Fakhrul menjelaskan, latar belakang Thomas yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan perlu dipahami sebagai kebutuhan zaman yang menuntut koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter.
Baca juga: Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI, Intip Harta Kekayaannya
"Dalam konteks inilah terpilihnya Thomas Djiwandono dengan latar belakang kebijakan fiskal sebelumnya seharusnya dipahami sebagai adaptasi terhadap era yang menuntut koordinasi, strategi, dan penguatan ketahanan ekonomi nasional," ujar Fakhrul dalam keterangannya, Selasa (27/1/2026).
Fakhrul menilai, tantangan ekonomi saat ini tidak lagi sebatas menjaga inflasi tetap rendah. Bank sentral juga dituntut memastikan stabilitas makroekonomi yang mampu menopang pertumbuhan jangka panjang.
"Tantangan hari ini bukan hanya menjaga inflasi tetap rendah, tetapi juga memastikan stabilitas makroekonomi yang mampu menopang pertumbuhan jangka panjang. Kita butuh Pengalaman fiskal untuk membantu moneter, lalu selanjutnya juga pengalaman moneter untuk membantu di fiskal," ungkapnya.
Fakhrul menambahkan, selama puluhan tahun bank sentral kerap dipersepsikan sebagai institusi yang berdiri di “menara gading”, independen dan terpisah dari dinamika kebijakan lain, dengan inflasi sebagai fokus utama. Namun, menurut dia, kondisi global saat ini telah banyak berubah.
"Globalisasi semakin terfragmentasi, geopolitik kini menentukan arus modal, dan kebijakan fiskal serta moneter tidak lagi bisa berjalan sendiri," imbuhnya.
Dalam jangka pendek, Fakhrul juga menyinggung mulai menguatnya nilai tukar rupiah ke level Rp16.700 per dolar AS. Ia menilai hal tersebut menandakan tekanan atau overhang di pasar keuangan mulai mereda.
Dia bilang, pengalaman dan pemahaman lintas kebijakan menjadi semakin penting di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan, stabilitas nilai tukar, serta pengelolaan risiko global yang semakin kompleks.
"Ke depan, sinergi moneter dan fiskal akan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Dunia pasca-pandemi telah menunjukkan bahwa stabilitas tanpa pertumbuhan bukanlah sebuah kemenangan," ucap dia.
"Bank sentral perlu tetap kredibel, namun juga relevan dan adaptif terhadap realitas baru ekonomi global," sambungnya.
Untuk informasi, Thomas Djiwandono resmi ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru menggantikan Juda Agung.
Penetapan itu dilakukan usai melakukan fit and proper test tiga calon Deputi Gubernur BI di Kompleks Parlemen DPR RI pada Senin (26/1/2026).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/DPR-setujui-Thomas-Djiwandono-menjadi-Deputi-Gubernur-BI_20260127_150020.jpg)