Minggu, 7 Juni 2026

Percepat Target Swasembada Garam 2027, KKP Kebut Sentra Industri di Rote Ndao NTT

KKP terus mempercepat pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, NTT.

Tayang:
Tribunnews.com/Foto: Setneg
SENTRA INDUSTRI GARAM - Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming saat meninjau Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao, Jumat (22/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Pembangunan sentra industri garam nasional di Rote Ndao dipercepat demi swasembada 2027.
  • Indonesia masih mengimpor jutaan ton garam industri untuk memenuhi kebutuhan nasional tahunan.
  • Pembangunan K-SIGN diklaim tetap memperhatikan ekosistem pesisir dan kesejahteraan masyarakat lokal.

 

TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mempercepat pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai upaya mempercepat swasembada garam nasional.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, mengungkapkan program strategis tersebut diproyeksikan menjadi solusi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor garam industri.

Saat ini, impor garam industri masih mendominasi pemenuhan kebutuhan nasional.

Menurut Koswara, pembangunan K-SIGN merupakan implementasi kebijakan nasional dalam memperkuat ketahanan garam sekaligus mendukung target swasembada garam pada 2027.

Hal itu tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional.

KKP mencatat kebutuhan garam nasional terus mengalami peningkatan setiap tahun.

Pada 2024, kebutuhan garam nasional mencapai sekitar 4,8 juta ton, sementara lebih dari 55 persen masih dipenuhi melalui impor, khususnya untuk kebutuhan industri dengan standar kualitas tinggi.

Dalam lima tahun terakhir, Indonesia rata-rata masih mengimpor lebih dari 2,6 juta ton garam per tahun, padahal Indonesia memiliki potensi wilayah pesisir yang besar sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.

“Pembangunan K-SIGN di Rote Ndao adalah jawaban atas kebutuhan strategis bangsa. Program ini bukan hanya pusat produksi garam, tetapi juga simbol kemandirian, keberlanjutan, dan keadilan sosial bagi masyarakat pesisir Indonesia,” ujar Koswara dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (7/6/2026).

Ia menekankan, garam tidak hanya menjadi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga komoditas strategis bagi berbagai sektor industri.

Di sektor pangan, garam digunakan dalam produksi makanan olahan, kecap, saus, makanan kaleng, hingga minuman elektrolit.

Baca juga: Indonesia Masih Impor Kedelai, Menkeu Purbaya Soroti Kondisi Penjual Tahu-Tempe Imbas Rupiah Melemah

Sementara di sektor kimia dan manufaktur, garam menjadi bahan baku utama untuk produksi soda kaustik, klorin, kaca, sabun, deterjen, tekstil, hingga pengolahan logam dan kulit.

Selain itu, garam juga memiliki peran penting di sektor kesehatan dan farmasi, seperti untuk pembuatan cairan infus, oralit, antiseptik, serta garam beryodium untuk mencegah penyakit gondok.

Tetap Perhatikan Ekosistem

Menanggapi kekhawatiran terkait dampak lingkungan, Koswara memastikan pembangunan K-SIGN tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem pesisir dan dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved