Senin, 13 April 2026

Rupiah Melemah ke Rp 16.776 per Dolar AS Pada Rabu 4 Februari

Pada perdagangan Rabu (4/2/2026) sore, rupiah ditutup melemah ke Rp 16.776 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.754.

TRIBUNNEWS/JEPRIMA
Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Menurut Bank Dunia, Indonesia sulit keluar dari middle income trap jika tidak melakukan reformasi struktural yang lebih dalam pada iklim usaha dan investasinya.
  • Ibrahim menilai, Indonesia sebenarnya telah mencatat kemajuan signifikan dan menunjukkan kinerja ekonomi yang cukup baik.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada perdagangan Rabu (4/2/2026) sore, rupiah ditutup melemah ke Rp 16.776 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.754.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengungkap bahwa pelemahan rupiah ini seiring dengan indeks dolar AS yang mengalami penguatan.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp 16.770-16.800," katanya dalam keterangan tertulis pada Rabu ini.

Baca juga: Rupiah Dibuka Melemah Rp 16.763 per Dolar AS Rabu Pagi

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas itu mengungkap sejumlah faktor dari luar dan dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah pada Rabu sore ini.

Dari luar negeri, pertama adalah ketegangan antara AS dan Iran. Negeri Paman Sam telah menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab.

Presiden AS Donald Trump pun mempertimbangkan potensi serangan militer terhadap Iran.

Sementara itu, Iran menuntut agar pembicaraan dengan AS minggu ini berlangsung di Oman, bukan di Turki, dan agar ruang lingkupnya dibatasi hanya pada percakapan dua arah mengenai isu nuklir.

"Para pedagang akan memantau dengan cermat perkembangan seputar negosiasi AS-Iran," ujar Ibrahim.

Faktor kedua adalah data manufaktur AS yang membentuk pandangan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) belum akan melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter.

Faktor ketiga adalah Indeks Manajer Pembelian Manufaktur (PMI) Institute for Supply Management (ISM) melonjak menjadi 52,6 pada Januari dari 47,9 pada Desember.

Baca juga: Rupiah Menguat ke Rp 16.754 per Dolar AS Pada Selasa 3 Februari

Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 48,5, sedangkan PMI Manufaktur Global S&P sedikit meningkat menjadi 52,4 dari 51,9.

"Fokus pasar hari ini adalah laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP, yang dijadwalkan akan dirilis malam nanti pukul 20.15 WIB," ucap Ibrahim.

Dalam Negeri

Faktor dari dalam negeri adalah Bank Dunia yang menilai Indonesia sulit keluar dari jebakan status negara berpendapatan menengah atau middle income trap.

Menurut Bank Dunia, Indonesia sulit keluar dari middle income trap jika tidak melakukan reformasi struktural yang lebih dalam pada iklim usaha dan investasinya.

Ibrahim menilai, Indonesia sebenarnya telah mencatat kemajuan signifikan dan menunjukkan kinerja ekonomi yang cukup baik.

Namun, masih terdapat sejumlah tantangan mendasar, terutama terkait kualitas lingkungan usaha.

"Persoalan tersebut sangat krusial karena Indonesia, seperti negara lain pada tingkat pendapatan yang sama, harus beralih ke mesin pertumbuhan baru," kata Ibrahim.

Model pertumbuhan Indonesia saat ini dinilai tidak lagi memadai untuk mendorong ekonomi menuju level pendapatan tinggi.

Ibrahim menyebut pendorong pertumbuhan ke depan harus semakin bersifat endogen dan berfokus pada produktivitas.

Selain itu, dapat memperluas pasar melampaui batas domestik guna mempercepat pembangunan dan inovasi.

Merujuk analisis World Bank terhadap data perusahaan dan big data di Indonesia, Ibrahim menyebut ekosistem perusahaan besar di Indonesia kurang dinamis dan produktif jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki ukuran ekonomi serupa namun berpendapatan lebih tinggi.

Kemudian, ia menyebut produktivitas perusahaan di Indonesia tidak meningkat seiring dengan pertumbuhan skala usahanya.

Temuan tersebut mengarah pada perlunya perbaikan lingkungan persaingan usaha.

Ibrahim mengatakan, tantangan tidak hanya terletak pada hambatan regulasi, tetapi juga pada penegakan kesetaraan kesempatan berusaha (level playing field) yang konsisten.

"Kondisi ini turut berdampak pada sektor keuangan, serta pasar jasa dan industri perngolahan," ujar Ibrahim.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved