Senin, 18 Mei 2026

Gejolak Rupiah

Ekonom: Pernyataan Prabowo Anggap Enteng Pelemahan Rupiah Membahayakan Masyarakat, Termasuk di Desa

Saat ini banyak pemimpin negara lain mempersiapkan strategi-strategi menghadapi kondisi terburuk dengan adanya krisis energi global dan kurs.

Tayang:
HO/IST/Dok Sekretariat Presiden
PELEMAHAN RUPIAH - Presiden Prabowo Subianto menyindir pihak-pihak yang kerap meramalkan ekonomi Indonesia akan mengalami kehancuran atau kolaps akibat fluktuasi nilai tukar mata uang asing, saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026) pagi. 

Ringkasan Berita:
  • Bhima Yudhistira menilai pernyataan Prabowo soal rupiah berpotensi menyesatkan karena pelemahan kurs bisa menaikkan biaya hidup masyarakat desa.
  • Barang impor, BBM, LPG, hingga pupuk disebut akan terdampak jika rupiah terus melemah terhadap dolar AS.
  • Bhima juga mengingatkan potensi PHK massal akibat tekanan kurs yang bisa menambah beban ekonomi di pedesaan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang terlihat menganggap enteng pelemahan rupiah terhadap dolar AS, membahayakan kehidupan masyarakat di kota maupun desa.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyampaikan, Presiden Prabowo perlu mendapat pengetahuan terkait dasar ilmu ekonomi, terkhusus nilai tukar.

"Jangan dikira pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang sudah Rp17.600, tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik, sampai ke level desa," ujar Bhima, Minggu (17/5/2026).

Baca juga: DPR Setuju Pernyataan Prabowo soal Rupiah Melemah: yang Terdampak Orang Kaya, Bukan Orang Desa

Ia menjelaskan, masyarakat di desa juga banyak menggunakan barang yang komponennya didapat dari impor, seperti handphone, kendaraan bermotor, televisi, hingga mesin cuci.

Kemudian, bahan bakar minyak (BBM) dan LPG masih dipenuhi dari impor untuk kebutuhan nasional.

Ia menyebut, barang-barang tersebut akan naik harganya ketika rupiah mengalami pelemahan.

"Lalu juga pupuk di sentra pertanian akan terpengaruh harganya kalau rupiah makin lama makin lemah. Itu semua tinggal menunggu waktu saja, sampai harganya akan menekanan masyarakat di pedesaan," ujar Bhima.

Selain harga barang yang naik, kata Bhima, pedesaan berpotensi dipenuhi masyarakat korban dari pemutusan hubungan kerja (PHK) dari perusahaan yang terimbas dampak pelemahan rupiah.

"Bisa terjadi PHK massal dari pelemahan rupiah, dan desa akan dibanjiri oleh mereka jadi korban PHK di perkotaan. Kembali ke desa tapi dalam posisi tidak bekerja dan tidak berpenghasilan, ini akan menjadi beban desa," paparnya.

Bhima menyampaikan, saat ini banyak pemimpin negara lain mempersiapkan strategi-strategi menghadapi kondisi terburuk dengan adanya krisis energi global maupun gejolak kurs.

Namun, kata Bhima, Prabowo justru menantang ancaman yang ada tanpa ada persiapan.

"Jadi kami sangat menyesalkan, Prabowo menganggap enteng situasi sekarang. Saya kira cara sikap dan komunikasi seperti itu sangat sangat membahayakan ekonomi," ujar Bhima.

Orang Desa Tak Pakai Dolar AS

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyindir pihak-pihak yang kerap meramalkan ekonomi Indonesia akan mengalami kehancuran atau kolaps akibat fluktuasi nilai tukar mata uang asing. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved