Gejolak Rupiah
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 16.894 per Dolar AS, Imbas Ketegangan Timur Tengah dan Sikap The Fed
Risalah Federal Reserve menunjukkan perbedaan pandangan soal suku bunga, menekan ekspektasi pemangkasan tahun ini.
Ringkasan Berita:
- Rupiah ditutup melemah ke Rp 16.894 per dolar AS dipicu penguatan dolar dan meningkatnya ketegangan Timur Tengah, termasuk sikap JD Vance serta pernyataan Donald Trump soal Iran.
- Risalah Federal Reserve menunjukkan perbedaan pandangan soal suku bunga, menekan ekspektasi pemangkasan tahun ini.
- Pemerintah menolak saran International Monetary Fund untuk menaikkan PPh, memilih jaga defisit di bawah 3 persen PDB.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (19/2/2026) sore di tengah meningkatnya tekanan geopolitik global.
Rupiah tercatat turun 10 poin ke level Rp 16.894 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp 16.884.
Pada perdagangan sehari sebelumnya, rupiah justru sempat melemah 50 point, yang membuatnya berada di level Rp 16.884.
Baca juga: Rupiah Sore Ini Kembali Loyo, Ditutup Melemah ke Rp 16.836 Jumat 12 Februari
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaib menilai, pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi sentimen global yang mendorong penguatan dolar AS.
Menurutnya, investor saat ini masih mencermati meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Terlebih usai Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan Iran belum memenuhi tuntutan utama AS dalam pembicaraan terbaru.
Meski Washington memberi waktu dua minggu bagi Teheran untuk merespons, situasi tetap memicu kekhawatiran pasar.
"Setelah Wakil Presiden AS JD Vance pada hari Rabu mengatakan bahwa Iran gagal memenuhi tuntutan utama AS dalam pembicaraan, Washington mengatakan telah setuju untuk memberi Teheran waktu dua minggu untuk mengatasi kesenjangan antara kedua pihak," ungkap Ibrahim dalam keterangan, Kamis (19/2/2026).
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan opsi penggunaan kekuatan tetap terbuka jika diplomasi gagal menghentikan program nuklir Iran.
Laporan peningkatan aktivitas militer dan angkatan laut di kawasan Teluk turut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Ketidakpastian juga datang dari konflik Rusia-Ukraina yang belum menunjukkan kemajuan signifikan menuju perdamaian.
Harapan pelonggaran sanksi terhadap ekspor energi Rusia pun semakin memudar, sehingga meningkatkan risiko keamanan global.
Selain faktor geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi perhatian utama. Risalah pertemuan terbaru Federal Reserve menunjukkan perbedaan pandangan pejabatnya terkait kebutuhan kenaikan suku bunga lanjutan.
Secara umum, para pembuat kebijakan menilai risiko inflasi masih cenderung ke atas, meski terdapat perdebatan soal seberapa ketat kebijakan harus dipertahankan.
Pelaku pasar pun mulai menurunkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Investor kini menunggu rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS sebagai indikator inflasi utama yang menjadi acuan bank sentral tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/nilai-tukar-rupiah-melemah_20240124_212242.jpg)