Minggu, 17 Mei 2026

BI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 4,9-5,7 Persen di 2026

Bank Indonesia memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Nitis Hawaroh
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews/Bambang Ismoyo
PERTUMBUHAN EKONOMI 2026 - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. BI memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen secara tahunan (year on year/yoy). 
Ringkasan Berita:
  • Bank Indonesia memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I 2026 diyakini akan lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025 yang saat itu mencatat pertumbuhan 5,39 persen.
  • Gubernur BI Perry Warjiyo mengingatkan, prospek ekonomi global pada 2026 diperkirakan melambat dari 3,3 persen pada 2025 menjadi 3,2 persen. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan perekonomian Indonesia tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Proyeksi tersebut disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo di acara Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur BI  secara virtual, Kamis (19/2/2026).

Perry mengatakan, proyeksi tersebut sejalan dengan sinergi kebijakan pemerintah dan BI melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, serta sistem pembayaran yang mendukung sektor riil.

"Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan," kata Perry Warjiyo.

Dia juga optimistis, pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I 2026 akan lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025 yang saat itu mencatat pertumbuhan 5,39 persen.

Optimisme tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang terus membaik, investasi yang meningkat, serta dukungan berbagai stimulus kebijakan dari pemerintah dan Bank Indonesia.

Ada tren kenaikan konsumsi rumah tangga karena berbagai program stimulus pemerintah, pelonggaran kebijakan moneter, serta ekspektasi konsumen yang membaik.

Baca juga: Di Depan Prabowo, Menko Airlangga Pamer Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV 2025

Selain itu juga didorong oleh naiknya kegiatan ekonomi masyarakat karena berbagai perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) di triwulan I 2026 seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, dan Idul Fitri 1447 H.

Laju investasi di kuartal I 2026 juga diperkirakan tumbuh lebih tinggi didorong oleh investasi pemerintah, termasuk program hilirisasi sumber daya alam (SDA), serta meningkatnya keyakinan pelaku usaha.

Ekonomi Global Melambat

Di sisi lain, Perry mengingatkan, prospek ekonomi global pada 2026 diperkirakan melambat dari 3,3 persen pada 2025 menjadi 3,2 persen. 

Menurut dia, perlambatan ini dipengaruhi oleh dampak kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat, tensi geopolitik, serta melemahnya ekonomi di sejumlah negara seperti Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India.

"Prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi global terutama dipengaruhi oleh dampak tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan berlanjutnya tensi geopolitik, kecuali AS yang diprakirakan meningkat dipengaruhi oleh besarnya stimulus fiskal dan tingginya investasi, termasuk investasi terkait artificial intelligence (AI)," ujar Perry. 

Baca juga: Target Pertumbuhan Ekonomi, DEN Soroti Strategi Penguatan Industri Tembakau

Perekonomian Eropa dan Jepang diprakirakan melambat dipengaruhi oleh kinerja ekspor yang turun sejalan dengan perlambatan ekonomi global serta permintaan domestik yang belum kuat di tengah pengaruh investasi AI yang meningkat. 

Ekonomi Tiongkok tetap dalam tren melambat akibat konsumsi rumah tangga yang belum kuat, sementara ekonomi India juga belum kuat dengan menurunnya permintaan domestik dan kinerja sektor eksternal. 

Sementara dari pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) tetap terbuka seiring pasar tenaga kerja yang masih lemah. Yield UST terutama tenor panjang tetap tinggi sejalan dengan peningkatan risiko fiskal AS. 

"Perkembangan ini mendorong aliran modal ke negara berkembang terjadi secara selektif, terutama ke saham dan obligasi jangka pendek," kata Perry.

Indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) juga melemah di tengah kenaikan permintaan terhadap safe haven assets yang mendorong kenaikan harga emas. 

"Ke depan, ketidakpastian perekonomian global diprakirakan tetap tinggi sehingga memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi," tegas Perry Warjiyo.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved