Kemenperin Perkuat Industri Pengolahan Kakao, RI Produsen Keempat Terbesar Dunia
Bahan baku biji kakao dalam negeri meningkat di 2025 setelah terjadi disrupsi industri kakao di pasar internasional.
Ringkasan Berita:
- Bahan baku biji kakao dalam negeri meningkat di 2025 setelah terjadi disrupsi industri kakao di pasar internasional.
- Volume industri pengolahan kakao nasional 4,43 persen dengan volume grind 422.176 ton di 2025 dan berkontribusi terhadap penerimaan devisa negara sebesar 3,42 miliar dolar AS.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Perindustrian memperkuat daya saing industri agro nasional termasuk pengolahan kakao di dalam negeri.
Bersama Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), pemerintah menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu tumpuan industri pengolahan kakao (grinding) di kawasan Asia dan global.
"Sejak tahun 2025 ketersediaan bahan baku biji kakao dalam negeri menunjukkan tren peningkatan sehingga memacu kami untuk memperkuat kapasitas grinding dalam negeri," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Rabu (4/3/3026).
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menjelaskan, di 2024 terjadi disrupsi pasokan biji kakao global, terutama dari Afrika Barat dan berdampak signifikan terhadap penurunan aktivitas grinding di sejumlah negara pengolah kakao.
Di 2025, pasokan biji kakao domestik mulai meningkat dan menopang kenaikan industri pengolahan kakao nasional 4,43 persen dengan volume grind 422.176 ton. Industri ini juga berkontribusi terhadap penerimaan devisa negara sebesar 3,42 miliar dolar AS.
"Prestasi ini menempatkan Indonesia sebagai produsen kakao olahan keempat terbesar di dunia. Saat ini, Indonesia telah menyuplai 8,46 persen kebutuhan kakao olahan global, meliputi cocoa butter, cocoa liquor, cocoa cake dan cocoa powder," kata Putu.
Baca juga: Ragam Masalah Kakao Nasional: dari Bibit, Birokrasi, dan Black Campaign
Untuk menjawab tantangan keterbatasan bahan baku, pemerintah melakukan integrasi komoditas kakao ke dalam Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang difokuskan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia kakao dari hulu ke hilir secara berkelanjutan, revitalisasi kebun kakao, serta penguatan riset dan inovasi.
Kemenperin juga mengalokasikan anggaran restrukturisasi mesin yang dapat dimanfaatkan industri pengolahan kakao dan cokelat.
Baca juga: Transformasi Kakao Jadi Harapan Baru Puluhan Petani di Dayak Kenyah Kalimantan Timur
"Dukungan ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan memperkuat daya saing industri kakao dalam negeri di pasar global," ungkap Putu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Industri-pengolahan-kakao-OK.jpg)