Selasa, 14 April 2026

Pasar Respons Positif Langkah Perbaikan Kinerja Manajemen Baru Garuda Indonesia

Saham GIAA milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk resmi keluar dari papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI) efektif 26 Maret 2026.

Penulis: Sanusi
Editor: Erik S
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Berdasarkan data perdagangan RTI Business hingga pukul 09.35 WIB, saham Garuda melonjak 21,92% ke level Rp89 per lembar, sekaligus menyentuh batas atas auto reject (ARA).  
Ringkasan Berita:
  • Di sisi kinerja, Garuda masih mencatatkan kerugian bersih pada 2025
  • Pada awal pembukaan perdagangan, saham Garuda sempat menyentuh level Rp96 per lembar.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Saham GIAA milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk resmi keluar dari papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI) efektif 26 Maret 2026.

Manajemen Garuda Indonesia dalam keterangan resminya mengatakan hal ini menandai perbaikan fundamental perseroan pasca khususnya melalui momentum gerakan transformasi manajemen baru terhadap tekanan kinerja dalam beberapa tahun terakhir.

"Seiring dengan keluarnya dari pemantauan khusus, saham Garuda kini diperdagangkan menggunakan mekanisme Full Call Auction (FCA) dan masuk ke papan pengembangan," bunyi keterangan pers yang diterima Tribunnews.com, Kamis (26/3/2026).

Selain itu, notasi khusus 'E' (ekuitas negatif) juga akan dihapus dan tidak lagi muncul. Dengan demikian, status perdagangan saham GIAA akan kembali normal dengan mekanisme perdagangan reguler.

Manajemen Garuda Indonesia juga mengatakan, perkembangan ini diharapkan dapat memberikan sentimen positif terhadap persepsi investor serta meningkatkan likuiditas dan daya tarik saham Perseroan di pasar.

Penguatan sentimen tersebut langsung tercermin pada pergerakan saham di pasar. Berdasarkan data perdagangan RTI Business hingga pukul 09.35 WIB, saham Garuda melonjak 21,92 persen ke level Rp89 per lembar, sekaligus menyentuh batas atas auto reject (ARA).

Bahkan, pada awal pembukaan perdagangan, saham emiten BUMN tersebut sempat menyentuh level Rp96 per lembar.

Sebelumnya, BEI menempatkan saham Garuda dalam papan pemantauan khusus akibat kondisi ekuitas negatif. Namun, perbaikan struktur keuangan mulai terlihat dengan ekuitas yang berbalik positif pada 2025 menjadi US$91,9 juta, dari posisi negatif -US$1,35 miliar pada 2024.

Di sisi kinerja, Garuda masih mencatatkan kerugian bersih sekitar US$322,4 juta pada 2025, seiring tekanan pendapatan yang melemah sekitar 5,85% secara tahunan. Kendati demikian, perbaikan ekuitas menjadi sinyal awal penguatan fundamental dan keberlanjutan proses transformasi yang tengah dijalankan perseroan.

Secara pergerakan harga, saham GIAA sebelumnya berada di level Rp73 per lembar pada perdagangan Rabu (25/3), dengan kenaikan sekitar 4,29?lam sepekan terakhir, meskipun masih terkoreksi sekitar 25,51% sejak awal tahun.

Keluarnya GIAA dari papan pemantauan khusus BEI sekaligus menjadi momentum penting bagi perseroan dalam memulihkan kepercayaan pasar, seiring berlanjutnya upaya transformasi kinerja operasional dan keuangan menuju fase turnaround.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved