Rabu, 6 Mei 2026

Harga Saham

Pelemahan Rupiah dan Melonjaknya Harga Minyak Dunia Jadi Ujian Berat IHSG

IHSG diproyeksi melemah di kisaran 6.700–7.250, dipengaruhi tekanan global dan kekhawatiran domestik.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
IHSG MELEMAH - Pengunjung melihat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Ada sentimen global dan domestik yang menyebabkan pasar saham Indonesia masih lesu. 
Ringkasan Berita:
  • IHSG turun 0,99 persen ke 7.026, dibayangi outflow asing Rp2,8 triliun akibat sentimen geopolitik global.
  • Rupiah melemah ke Rp17.000 per dolar AS dan lonjakan harga minyak memperbesar risiko inflasi serta defisit APBN.
  • IHSG diproyeksi melemah di kisaran 6.700–7.250, dipengaruhi tekanan global dan kekhawatiran domestik.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,99 persen di level 7.026 akhir perdagangan, Kamis (2/4/2026).

Saat pelemahan IHSG minggu lalu, investor asing melakukan penjualan (outflow) mencapai Rp 2,8 triliun di pasar reguler. 

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menjelaskan, ada sentimen global dan domestik yang menyebabkan pasar saham Indonesia masih lesu.

Baca juga: India Beli Minyak Iran Lagi setelah 7 Tahun di Tengah Gejolak Timur Tengah

Dari global ada sentimen tensi geopolitik, dimana Donald Trump telah menyatakan siap menyerang Iran secara frontal. Ancaman serangan AS ke Iran ini membuat investor global panik dan buru-buru beralih ke safe haven. 

"Akibatnya muncul ketidakpastian tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham di pasar berkembang, termasuk IHSG kemungkinan besar bakal kena aksi jual jangka pendek," jelas David dikutip Senin (6/4/2026).

Sementara itu dari domestik ada sentimen Program B50, dimana pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan tingkat pencampuran biodiesel berbasis sawit akan ditingkatkan menjadi 50% (B50) mulai 1 Juli dari sebelumnya 40%.

Dikhawatirkan, pengalihan berlebih CPO ke biodiesel berisiko memicu kenaikan harga minyak goreng dan inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat serta memberikan sentimen negatif bagi sektor Consumer Goods.

Berbicara tentang potensi market pada 6-10 April 2026, David mengimbau investor dan trader untuk memantau perkembangan nilai tukar Rupiah dan harga minyak.

"Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup drastis," tandasnya.

Ia menambahkan ketika harga minyak mentah bertahan di atas 100 dolar AS per barel, beban subsidi energi dalam APBN akan membengkak secara signifikan sehingga mengancam batas aman defisit fiskal negara. 

"Tekanan ini diperparah oleh posisi rupiah yang sempat menembus level Rp17.000 per Dolar AS yang secara otomatis meningkatkan biaya impor bahan baku dan memicu kenaikan inflasi domestik," tuturnya.

IHSG diproyeksikan bergerak melemah dengan rentang support di level 6.700 dan resistance pada 7.250 karena dipicu juga sentimen negatif akibat penyesuaian komposisi kepemilikan saham yang tinggi (high shareholding composition) sejalan dengan proyeksi metodologi MSCI yang sebelumnya telah diantisipasi pasar.

Hal senada juga disampaikan Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda.

Ia mengatakan, pelemahan IHSG pekan kemarin dipicu oleh sentimen global yang kembali memburuk, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

“Tekanan jual, khususnya dari investor asing, masih cukup dominan. Sentimen utamanya masih datang dari faktor global, terutama soal geopolitik di Timur Tengah,” ujarnya dikutip dari Kontan.

Menurutnya, sempat muncul optimisme setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut konflik berpotensi segera berakhir. Namun, pernyataan terbaru justru bernada lebih agresif, sehingga memicu kembali mode risk-off di pasar.

Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga energi, khususnya minyak mentah, yang turut menekan sentimen pasar global.

Dari domestik, kebijakan pemerintah untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan mendorong efisiensi dinilai cukup tepat dalam meredam dampak kenaikan harga energi. Namun, pasar mulai mencermati potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Selain itu, data ekonomi yang dirilis juga menunjukkan kondisi yang cenderung beragam. Surplus neraca perdagangan masih tercatat, namun mengalami penurunan secara tahunan. Sementara itu, inflasi yang mulai melandai di satu sisi menjadi sentimen positif, tetapi juga mencerminkan moderasi daya beli masyarakat.

Secara teknikal, Reza menilai IHSG masih berada dalam tekanan dengan kecenderungan konsolidasi.

“Support kuat di level 7.000 dan resistance di kisaran 7.100 hingga 7.200. Selama sentimen global belum kondusif, IHSG kemungkinan masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah,” jelasnya.

Pergerakan Rupiah

Pada Kamis (2/4/2026), rupiah di pasar spot melemah 0,11 persen ke level Rp 17.002 per dolar AS. 

Dalam sepekan, nilai tukar rupiah sudah terkoreksi 0,57 persen.   

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI) rupiah melorot 0,07 persen secara harian ke Rp 17.015 per dolar AS.

Analis Mata Uang Ibrahim mengatakan, pergerakan rupiah dalam sepekan ini dipengaruhi efek sentimen perang di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump mengancam AS akan “menghancurkan” pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. 

Hal ini menyusul penolakan Teheran terhadap proposal perdamaian AS sebagai “tidak realistis” dan serangan rudal baru-baru ini terhadap Israel. 

Sementara Iran menyatakan siap menghadapi invasi darat oleh AS, terutama setelah laporan akhir pekan lalu menunjukkan Washington mengerahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah. 

Namun demikian, Gedung Putih mengklaim bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dan berjalan dengan baik. 

“Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah,” ujar Ibrahim.

Rupiah juga dipengaruhi sentimen melebarnya defisit APBN. Pemerintah memperkirakan defisit APBN melebar dari target seiring dengan pembengkakan belanja subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu perang Timur Tengah.

Defisit APBN bisa melebar ke 2,9 persen terhadap PDB, apabila harga minyak berada di level 100 dolar AS secara konsisten sepanjang tahun. 

Melihat sentimen tersebut, Abrahim memperkirakan rupiah dalam sepekan ke depan rupiah bergerak dikisaran Rp 16.980 – Rp 17.120 per dolar AS. 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved