Harga Saham
Pasar Modal Digempur Sentimen Negatif, Kemarin IHSG Ambles 4 Persen, Ada Ramalan Menuju Level 7.000
Bursa Efek Indonesia menyebut pelemahan sejalan dengan bursa regional akibat eskalasi geopolitik dan lonjakan harga minyak.
Ringkasan Berita:
- IHSG merosot 4,57 persen ke level 7.577,06 dipicu kombinasi sentimen negatif, terutama konflik Israel-AS versus Iran.
- Tekanan dinilai berlanjut dengan proyeksi IHSG kuartal I di kisaran 7.000–7.500, bahkan skenario terburuk 7.390.
- Bursa Efek Indonesia menyebut pelemahan sejalan dengan bursa regional akibat eskalasi geopolitik dan lonjakan harga minyak.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasar modal Indonesia digempur berbagai sentimen negatif, sejak akhir Januari 2026 hingga kemarin.
Sentimen negatif tersebut yaitu mulai pengumuman pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menahan rebalancing saham-saham Indonesia, di susul perang Israel-Amerika Serikat Vs Iran.
Kemudian, pengumuman Moody's dan Fitch Ratings yang merevisi outlook atau prospek peringkat kredit utang pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil.
Baca juga: IHSG Siang Ini Terus Melemah, Drop 4,5 Persen Setelah Penutupan Perdagangan Sesi I
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG merosot 362,70 poin atau 4,57% ke level 7.577,06 pada penutupan perdagangan, Rabu (4/3/2026).
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan rating dari Fitch membuat outlook pasar saham Indonesia menjadi trend melemah dalam jangka pendek-menengah.
“Revisi outlook ini menunjukkan kekhawatiran risiko fiskal dan utang, sehingga aliran dana asing bisa meningkat,” ujarnya dikutip dari Kontan, Kamis (5/3/2026).
Penurunan IHSG diperkirakan masih akan tertekan sampai tercapainya ekuilibrium baru, terutama dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
IHSG di kuartal I 2026 diproyeksi di kisaran 7.500 - 7.000.
Sementara, IHSG bakal ada di kisaran 7.500 - 8.000 di akhir semester I.
Menurut Wafi, sektor yang terdampak negatif adalah sektor perbankan sebagai proksi utama indeks yang dilepas asing, serta sektor properti dan konstruksi akibat potensi kenaikan cost of funds (CoF).
Sementara, sektor yang resilien adalah sektor energi (migas atau batu bara) dan logam mulia (emas).
“Sektor tersebut diuntungkan penguatan dolar AS dan berfungsi sebagai hedging terhadap inflasi serta risiko geopolitik,” tuturnya.
Investor disarankan untuk tetap defensif, dengan mengalokasikan portofolio pada aset safe haven (emas) atau emiten komoditas dengan kas dolar AS kuat.
Ia merekomendasikan beli untuk ANTM, MEDC, dan ICBP dengan target harga masing-masing Rp 5.000 per saham, Rp 2.450 per saham, dan Rp 10.800 per saham.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/IHSG-Kembali-Melemah-Pada-Penutupan-Perdagangan_20260202_205738.jpg)