Kamis, 23 April 2026

Penipuan Digital Naik Kelas, Masyarakat Perlu Waspadai Perkembangan Scam

Pelaku penipuan kini memanfaatkan teknologi generatif dan membaca momentum kepercayaan serta pergerakan likuiditas masyarakat.

HO/IST
WASPADAI SCAM - Niki Luhur, founder dan Group CEO VIDA saat berbincangan dengan host Gita Wirjawan di podcast Endgame yang tayang di YouTube. Niki Luhur mengingatkan ke masyarakat bahwa pelaku scam saat ini tidak lagi bisa dipandang sebagai individu yang bergerak sendiri. 
Ringkasan Berita:
  • Sindikat penipuan digital kini semakin canggih lebih rapi dan didukung kemampuan teknis dengan memanfaatkan perkembangan AI.
  • Praktik penipuan menyasar target secara acak dan bisa dijalankan dalam skala besar dan scam kini telah berkembang menjadi bisnis kriminal lintas negara dengan nilai ekonomi yang sangat besar.
  • Pelaku penipuan kini memanfaatkan teknologi generatif dan membaca momentum kepercayaan serta pergerakan likuiditas masyarakat.

Ā 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Ancaman penipuan digital atau scam berkembang dengan polaĀ yang semakin adaptif dan beragam sejalan dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Saat berbincangan dengan Gita Wirjawan di podcast Endgame, Niki Luhur, founder dan Group CEO VIDA mengingatkan bahwa pelaku scam saat ini tidak lagi bisa dipandang sebagai individu yang bergerak sendiri.Ā 

Di balik banyak serangan digital saat ini, terdapat jaringan yang lebih rapi, terkoordinasi dan didukung kemampuan teknis yang semakin canggih.

Baca juga: Sejak Januari, 6.308 WNI Eks Sindikat Scam Kamboja Minta Pulang ke RI

ā€œPenipuan sekarang tidak lagi bergerak secara acak atau dilakukan sendirian. ModusnyaĀ sudah makin rapi, terstruktur, bisa dijalankan dalam skala besar, dan kecanggihannyaĀ terus berkembang pesat,ā€ ujar Niki.

Diskusi ini sekaligus menandai peluncuran whitepaper VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook.

Laporan tersebut menyoroti lanskap penipuan digital di Asia Tenggara yang terus berkembang, baik dari sisi kecanggihan serangan, pemanfaatan teknologi generatif, maupun cara pelaku membaca momentum kepercayaan dan pergerakan likuiditas masyarakat.

Niki menjelaskan, scam kini telah berkembang menjadi bisnis kriminal lintas negara dengan nilai ekonomi yang sangat besar. Ia mencontohkan pengungkapan kasus yang melibatkan Kamboja dan Myanmar, dengan penyitaan aset Bitcoin senilai 14 miliar dolar AS atau setara dengan lebih dari Rp238 triliun.Ā 

Niki juga menyoroti laporan tentang 800 Warga Negara Indonesia (WNI) yang mengantre di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kamboja untuk pulang setelah terjebak dalam kerja paksa jaringan scam.

Kasus ini menegaskan bahwa scam kini bukan lagi penipuan digital biasa, melainkanĀ persoalan lintas negara dengan dampak yang semakin besar.

Perkembangan AI seperti deepfake dan synthetic identity membuat batas antara yang nyata dan palsu semakin tipis.

Teknologi ini memungkinkan konten palsu tampil lebih realistis, meyakinkan, dan diproduksi jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu.

Kondisi ini menghadirkan tantangan baru bagi ekosistem digital, karena bukan hanya identitas yang dapat dipalsukan, tetapi juga rasa percaya pengguna terhadap interaksi dan transaksi digital.

ā€œKetika teknologi membuat sesuatu yang palsu tampak sangat nyata dan meyakinkan,Ā tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita membangun kembali trust di ruangĀ digital,ā€ ujar Gita Wirjawan.

Melalui diskusi ini, VIDA menegaskan bahwa menghadapi lonjakan penipuan digital tidakĀ bisa hanya mengandalkan satu pendekatan.

Di satu sisi, dibutuhkan perubahan yang lebih mendasar dalam membangun dan menjalankan sistem digital agar lebih siap menghadapi ancaman yang terus berkembang.

Di sisi lain, penguatan literasi publik juga tetap penting agar masyarakat semakin memahami berbagai pola scam yang terus berevolusi.

Sejalan dengan hal tersebut, VIDA terus memperluas akses edukasi publik melalui laman Where’s The Fraud Hub, yang menghadirkan whitepaper, studi kasus, data terkini, dan panduan praktis.

Inisiatif ini juga menjadi landasan dari kampanye literasi publik VIDA, #JanganAsalKlik, yang mengajak masyarakat untuk lebih kritis dan tidak mudah percaya pada komunikasi digital yang tampak meyakinkan.

Untuk membantu publik, pelaku industri, dan regulator memahami bagaimana scam terusĀ berevolusi, VIDA mengajak masyarakat untuk mengakses whitepaper VIDA 2026 SEAĀ Digital Identity Fraud Outlook melalui laman Where’s The Fraud Hub serta menyaksikanĀ diskusi lengkap Niki Luhur bersama Gita Wirjawan dalam podcast Endgame.

Melalui dua materi ini, VIDA ingin mendorong pemahaman yang lebih kuat mengenai bagaimana scam berevolusi dan mengapa penguatan kepercayaan digital menjadi semakin mendesak.Ā 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved