Senin, 13 April 2026

Harga Telur di Pasaran Anjlok Tapi Harga Pakan Ternak Mahal, Pemerintah Diminta Intervensi Via MBG

Ketidakseimbangan ini buat banyak peternak ada dalam posisi sulit bahkan terancam merugi, sehingga muncul kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha.

SURYA/PURWANTO
KELUHKAN HARGA - Peternak memanen telur ayam di peternakan ayam petelur di Kelurahan Wonokoyo, Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (29/4/2025). Peternak ayam petelur setempat mengeluhkan harga telur ayam di pasaran yang mengalami fluktuasi dengan kecenderungan turun dalam tiga pekan terakhir yakni dari Rp 27 ribu per kilogram hingga sempat menyentuh harga Rp20.800 per kilogram sehingga peternak mengganti pakan jagung dengan tepung olahan untuk mengurangi biaya pakan. SURYA/PURWANTO 
Ringkasan Berita:
  • Harga telur yang turun signifikan dalam beberapa waktu terakhir tidak sejalan dengan biaya produksi yang masih tinggi, terutama harga pakan yang belum mengalami penurunan. 
  • Sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha peternakan rakyat yang selama ini menjadi salah satu penopang ketahanan pangan nasional.
  • Harga telur sempat berada di kisaran Rp27.000 hingga Rp30.000 per kilogram.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah kebutuhan pangan yang terus meningkat, kondisi peternak ayam petelur justru tengah menghadapi tekanan berat. Harga telur yang turun signifikan dalam beberapa waktu terakhir tidak sejalan dengan biaya produksi yang masih tinggi, terutama harga pakan yang belum mengalami penurunan. 

Baca juga: Tekan Harga Telur dan Daging Ayam, Pemerintah Kembali Guyur Jagung Pakan Murah ke Peternak

Ketidakseimbangan ini membuat banyak peternak berada dalam posisi sulit, bahkan terancam merugi, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha peternakan rakyat yang selama ini menjadi salah satu penopang ketahanan pangan nasional.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M. Sarmuji mengungkapkan, harga telur di tingkat peternak di sejumlah sentra produksi, seperti Blitar, Jawa Timur, saat ini mengalami penurunan cukup tajam.

“Saat ini terjadi ketidakseimbangan yang serius. Harga pakan tetap tinggi, tetapi harga telur di tingkat peternak justru turun di kisaran Rp21.000 hingga Rp22.000 per kilogram. Kondisi ini jelas merugikan peternak dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).

Padahal sebelumnya, harga telur sempat berada di kisaran Rp27.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Penurunan harga yang cukup dalam ini membuat margin keuntungan peternak semakin tergerus, bahkan tidak sedikit yang berada di ambang kerugian.

Menurut Sarmuji, kondisi ini membutuhkan langkah cepat dari pemerintah, setidaknya sebagai solusi jangka pendek untuk menjaga keberlangsungan usaha para peternak. Tanpa adanya intervensi, tekanan yang terjadi saat ini dikhawatirkan dapat melemahkan sektor peternakan nasional.

Sebagai langkah konkret, ia mendorong pemerintah untuk meningkatkan frekuensi penggunaan telur dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama satu hingga dua bulan ke depan. Upaya ini dinilai dapat membantu menyerap produksi telur di pasar sehingga harga di tingkat peternak kembali lebih stabil.

“Program MBG bisa menjadi instrumen efektif untuk menyerap produksi telur peternak. Dengan peningkatan frekuensi menu telur, kita bisa membantu menyeimbangkan harga sekaligus memastikan program gizi berjalan optimal,” jelasnya.

Baca juga: Pemerintahan Trump Dipusingkan Lonjakan Harga Telur, Investigasi Dilakukan

Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya menerima banyak keluhan dari para peternak, terutama di sentra produksi seperti Blitar dan sejumlah daerah lainnya. Besarnya jumlah peternak ayam petelur membuat persoalan ini berdampak luas terhadap perekonomian masyarakat.

“Keluhan dari peternak terus berdatangan. Ini menunjukkan masalahnya nyata dan dirasakan langsung oleh pelaku usaha di lapangan. Pemerintah perlu segera hadir dengan kebijakan yang responsif dan tepat sasaran,” ujarnya.

Sarmuji menegaskan, Fraksi Partai Golkar DPR akan terus mendorong pemerintah untuk mengambil langkah konkret guna menjaga keseimbangan harga sekaligus melindungi keberlangsungan peternak ayam petelur rakyat. Menurutnya, tanpa perlindungan yang memadai, sektor ini berisiko mengalami tekanan lebih dalam yang pada akhirnya dapat berdampak pada stabilitas pasokan pangan nasional.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved