Rabu, 15 April 2026

BI Perluas Transaksi Mata Uang Lokal untuk Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS

Bank Indonesia terus mendorong diversifikasi penggunaan mata uang dalam perdagangan dan investasi demi mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews.com/Lita Febriani
MATA UANG LOKAL - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti di acara Central Banking Forum 2026, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026). (Tribunnews.com/Lita Febriani). 
Ringkasan Berita:
  • BI memperluas skema transaksi menggunakan mata uang lokal dengan berbagai negara mitra demi mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
  • Transaksi menggunakan mata uang lokal dilakukan dengan China, Jepang, Korea, kemudian dengan Malaysia hingga Thailand.
  • Di akhir 2025, nilai transaksi berbasis mata uang lokal tercatat mencapai 25,7 miliar dolar AS, atau melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia terus mendorong diversifikasi penggunaan mata uang dalam perdagangan dan investasi demi mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Salah satu strateginya adalah memperluas skema Local Currency Transaction (LCT) dengan berbagai negara mitra.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, penggunaan LCT menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan rupiah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

"Kita akan terus membuat transaksi berdasarkan Local Currency Transaction (LCT). Jadi itu transaksi bilateral Indonesia dengan negara lainnya, dimana transaksi itu tidak harus selalu dengan dolar, bisa dengan mata uang negara yang bersangkutan, seperti China, Jepang, Korea, kemudian dengan Malaysia, Thailand dan seterusnya," tutur Destry dalam Central Banking Forum 2026, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).

Nilai transaksi Indonesia dengan sejumlah negara besar seperti China dan Jepang sudah cukup signifikan, bahkan mencapai miliaran dolar setiap bulan.

Bank Indonesia berencana memperluas cakupan skema Local Currency Transaction dengan berbagai mitra untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar.

"Transaksi kita dengan Cina, Jepang saja per bulan itu sudah mencapai sekitar 3 miliar dolar AS sampai 3,5 miliar dolar AS per bulan. Kalau itu bisa berlangsung dengan LCT dan bisa terus kita perluas, tentunya pertahanan rupiah terhadap dolar AS bisa kita kurangi. Ini terus kita naikkan," jelasnya.

Baca juga: Transaksi dengan Mata Uang Lokal dan Renminbi Butuh Dukungan Regulator dan Perbankan

Menurut Destry, tren penggunaan LCT dalam transaksi juga menunjukkan peningkatan pesat dalam beberapa waktu terakhir.

Di akhir 2025, nilai transaksi berbasis mata uang lokal tercatat mencapai 25,7 miliar dolar AS, atau melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

"Akhir 2025 kemarin, transaksi LCT itu mencapai 25,7 miliar dolar. Itu naik dua kali lipat dibanding tahun 2024," ungkap Destry.

Baca juga: Arab Saudi Gagalkan Agenda BRICS Ganti Dolar AS dengan Mata Uang Lokal

Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperluas implementasi LCT dengan menggandeng berbagai pihak, termasuk kementerian dan lembaga terkait, guna memperkuat ekosistem transaksi lintas negara berbasis mata uang lokal.

"Upaya ini akan terus kita lakukan bersama, tentunya bukan hanya dengan Bank Indonesia, tapi kita juga tentu akan bekerjasama dengan kementerian dan lembaga terkait lainnya," ucap Destry.

 

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved