Rupiah Melemah, DPP GMNI Soroti Kerentanan Struktur Ekonomi Nasional
GMNI menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.700 per dolar AS harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Ringkasan Berita:
- DPP GMNI menilai pelemahan rupiah menembus Rp17.700 menunjukkan kerentanan ekonomi nasional menghadapi tekanan global kompleks.
- Rino Bakhtiar menegaskan dampak pelemahan rupiah berasal ketergantungan impor bahan baku nasional berkepanjangan dan tinggi.
- DPP GMNI meminta pemerintah mempercepat substitusi impor, hilirisasi industri, serta penguatan kebijakan ekonomi nasional berkelanjutan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.700 per dolar Amerika Serikat (AS) harus menjadi perhatian serius pemerintah.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan masih rentannya struktur ekonomi nasional di tengah tekanan global yang semakin kompleks.
Ketua DPP GMNI Bidang Perekonomian, Rino Bakhtiar, menanggapi pernyataan Presiden yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar AS dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada penggunaan dolar secara langsung oleh masyarakat, melainkan pada dampak struktural pelemahan rupiah terhadap perekonomian nasional.
“Persoalannya bukan apakah masyarakat desa menggunakan dolar atau tidak. Persoalannya adalah struktur ekonomi nasional masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor, sehingga pelemahan rupiah tetap berisiko menekan biaya produksi dan daya beli masyarakat dalam jangka panjang,” ujar Rino, Rabu, (20/5/2026).
Ia menegaskan masyarakat memang tidak bertransaksi menggunakan dolar AS secara langsung.
Namun, pelemahan rupiah tetap dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi karena tingginya ketergantungan terhadap bahan baku, barang modal, dan kebutuhan produksi dari luar negeri.
Setelah menanggapi pernyataan Presiden, DPP GMNI juga meminta pemerintah bersama Bank Indonesia segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Menurut Rino, narasi bahwa kondisi saat ini tidak seburuk krisis 1998 perlu disikapi secara kritis
dan proporsional.
“Memang konteksnya berbeda dengan krisis 1998. Tetapi ketika rupiah menembus Rp17.700 per dolar AS, itu menunjukkan bahwa struktur ekonomi kita masih rentan menghadapi tekanan global,” katanya.
Menurut dia, apabila fundamental ekonomi nasional benar-benar kuat, tekanan eksternal tidak semestinya memberikan dampak sebesar yang terjadi saat ini.
Baca juga: Prabowo Bentuk Badan Ekspor Nasional, Pengamat: Bisa Tekan Kebocoran dan Perkuat Rupiah
“Pemerintah dan Bank Indonesia tidak boleh berlindung di balik narasi stabilitas semu yang hanya meredam kepanikan jangka pendek tanpa menyentuh akar persoalan struktural,” tegasnya.
Rino menyebut pelemahan rupiah memang dipengaruhi berbagai faktor eksternal, mulai dari penguatan dolar AS hingga eskalasi geopolitik global. Namun di sisi lain, kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa struktur ekonomi domestik masih memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap faktor luar negeri.
Menurut dia, situasi ini seharusnya menjadi momentum koreksi nasional untuk membenahi arah pembangunan ekonomi secara lebih mendasar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ketua-DPP-GMNI-Bidang-Perekonomian-Rino-Bakhtiar.jpg)