Selasa, 21 April 2026

Harga Saham

IHSG Ditutup Melonjak 2,34 Persen, Rupiah Loyo ke Posisi Rp17.127 per Dolar AS

Total volume perdagangan saham di bursa mencapai 52,18 miliar saham, dengan total nilai Rp 24,47 triliun.

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
IHSG MENGUAT - Pengunjung melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Tercatat, IHSG ditutup naik 175,76 poin atau 2,34 persen ke level 7.675,95 dari posisi hari sebelumnya 7.500,19. 

Ringkasan Berita:
  • IHSG ditutup naik 2,34 persen ke level 7.675, didorong energi dan dividen.
  • Rupiah melemah ke Rp17.127 akibat sentimen global dan geopolitik.
  • Pelaku usaha cenderung wait and see di tengah ketidakpastian global.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah pada hari ini, Selasa (14/4/2026) berbeda arah.

Tercatat, IHSG ditutup naik 175,76 poin atau 2,34 persen ke level 7.675,95 dari posisi hari sebelumnya 7.500,19.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang 7.592,74 hingga 7.686,36.

Baca juga: IHSG Berbalik Menguat di Tengah Kebuntuan Negosiasi AS-Iran, Selamat Tinggal Level 7.400

Total volume perdagangan saham di bursa mencapai 52,18 miliar saham, dengan total nilai Rp 24,47 triliun.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan, penguatan IHSG dipengaruhi beberapa sentimen. 

Pertama, kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah yang menembus level 102 dolar AS per barel berkorelasi positif pada emiten energi.

Kedua, adanya pembagian dividen dengan yield menarik, seperti ADMF sekitar 6,9 persen, CMRY dengan estimasi diviend yield 2,2 persen, SIDO sebesar 2,9 persen, NISP sekitar 3,3 persen dan ARNA sebesar 8,2 persen. 

Senior Market Chartist Nafan Aji Gusta mengatakan, respons positif pasar terhadap pasar modal Indonesia, tidak lepas dari konsistensi reformasi yang dijalankan.

Ia mencontohkan keputusan FTSE Russell yang tetap menempatkan Indonesia dalam kategori secondary emerging market sebagai indikator kepercayaan global.

“FTSE Russell sendiri masih mempertahankan Indonesia di secondary emerging market. Ini menjadi langkah strategis yang menunjukkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal kita,” ujar Nafan.

Menurutnya, konsistensi dalam menjalankan reformasi menjadi faktor krusial. Jika kebijakan yang telah dirancang dapat diimplementasikan secara berkelanjutan, transparansi pasar akan semakin meningkat dan pada akhirnya memperkuat minat investor global.

Menurutnya, kondisi ini penting untuk menjaga posisi Indonesia tetap berada di level emerging market, bahkan membuka peluang peningkatan status di masa depan.

“IHSG kita sudah mulai mengalami penguatan di tengah ketidakpastian global. Ini menunjukkan bahwa pasar merespons positif arah kebijakan yang ada,” tambahnya.

Rupiah Ambles

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved