Industri Air Kemasan Disorot, AMDATARA Buka Suara Soal Isu Lingkungan dan Kontribusi
DPR berikan apresiasi terkait praktik keberlanjutan yang telah diterapkan khususnya Klaten. Air minum dalam kemasan dinilai beri kontribusi lingkungan
Ringkasan Berita:
- AMDATARA memperkuat komunikasi strategis dengan pemerintah dan DPR guna memulihkan persepsi publik terhadap industri AMDK
- Pelaku industri AMDK juga terus mengintegrasikan praktik berkelanjutan yang berdampak pada lingkungan, sebagai langkah menjawab kritik yang kerap melabeli sektor ini sebagai industri ekstraktif
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam, industri air minum dalam kemasan (AMDK) menghadapi tantangan besar terkait persepsi masyarakat.
Baca juga: Polemik Sumber Air Minum Kemasan, Ini Tanggapan ASPADIN dan Anggota DPR
Selama ini, sektor tersebut kerap dipandang sebagai industri yang bersifat ekstraktif, yakni hanya mengambil air dari alam untuk kepentingan bisnis tanpa memberikan kontribusi yang seimbang bagi lingkungan maupun masyarakat.
Menyadari hal tersebut, pelaku industri kini mulai bergerak lebih terbuka dengan memperkuat komunikasi dan menunjukkan berbagai upaya nyata yang telah dilakukan, agar masyarakat mendapatkan gambaran yang lebih utuh dan objektif mengenai peran industri AMDK dalam perekonomian dan keberlanjutan lingkungan.
Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) menjadi salah satu pihak yang aktif mengambil langkah tersebut. Melalui pendekatan komunikasi yang lebih intensif dengan pemerintah dan DPR RI, AMDATARA berupaya menjelaskan bahwa industri AMDK tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga berkomitmen pada prinsip keberlanjutan dan ekonomi sirkular.
Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo, mengatakan bahwa berbagai kritik yang muncul perlu dijawab dengan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan.
“Kami ingin memberikan jawaban konkret bahwa industri ini merupakan pemimpin untuk ekonomi sirkular dan keberlanjutan. Persepsi negatif bahwa kami kurang berkontribusi terhadap masyarakat atau ekonomi nasional harus dijawab dengan aksi nyata,” ujarnya dalam sebuah acara di Jakarta, baru-baru ini.
Ia menjelaskan, pelaku industri AMDK terus berupaya menjalankan praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Salah satunya melalui keterlibatan dalam pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang menjadi bagian penting dalam rantai ekonomi nasional.
Selain itu, AMDATARA juga memperkuat komunikasi dengan DPR, khususnya Komisi VII, untuk menjelaskan berbagai langkah yang telah dilakukan industri dalam menerapkan prinsip keberlanjutan. Upaya ini diharapkan dapat membantu meluruskan persepsi publik yang selama ini berkembang.
“Harapannya, industri tidak selalu dipandang negatif, seolah-olah tidak memberikan kontribusi. Padahal, banyak hal yang sudah dilakukan untuk masyarakat dan ekonomi,” kata Karyanto.
Ia menambahkan, industri AMDK merupakan bagian dari sektor makanan dan minuman yang memiliki kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, keberlanjutan industri perlu dijaga agar dapat terus memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) turut mengapresiasi peran industri AMDK. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merijanti Punguan Pintaria, menyebut sektor ini memiliki dampak ekonomi yang cukup besar.
Berdasarkan data Kemenperin, industri AMDK telah menyerap lebih dari 46 ribu tenaga kerja langsung, dengan nilai investasi mencapai Rp27,8 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan industri tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor ekonomi lainnya.
“Keberadaan industri ini pasti memiliki efek ganda yang luas dan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia,” ujar Merri.
Namun demikian, ia menilai penting bagi pelaku industri untuk lebih aktif mendokumentasikan dan menyampaikan kegiatan yang telah dilakukan, khususnya terkait kontribusi terhadap masyarakat dan lingkungan. Langkah ini dinilai penting untuk menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Baca juga: Industri AMDK Tumbuh Stabil 5–8 Persen, Serap 46 Ribu Tenaga Kerja
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Amdatara-komunikasi-dengan-DPR.jpg)