Kamis, 7 Mei 2026

MIND ID Raup Laba Rp29 Triliun Setelah Genjot Bisnis Hilir Tambang

MIND ID membukukan laba bersih sebesar Rp29 triliun sepanjang tahun 2025 atau 13 persen lebih tinggi dari target.

Tayang:
Penulis: Erik S
Editor: Choirul Arifin
HO/IST/dok.
RAUP LABA - Holding Industri Pertambangan MIND ID membukukan laba bersih sebesar Rp29 triliun sepanjang tahun 2025, lebih tinggi sekitar 13 persen dari target yang ditetapkan. Raihan ini dinilai sebagai wujud nyata integrasi hulu-hilir yang semakin baik. 
Ringkasan Berita:
  • MIND ID mencatat laba bersih Rp29 triliun tahun 2025, melampaui target setelah melakukan integrasi bisnis hulu-hilir.
  • Pendapatan mencapai Rp159 triliun dengan EBITDA Rp42 triliun, didukung kenaikan harga komoditas dan kinerja operasional.
  • Perusahaan fokus hilirisasi, termasuk baterai listrik, aluminium, emas, serta gasifikasi batubara untuk meningkatkan nilai tambah.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Holding Industri Pertambangan MIND ID membukukan laba bersih sebesar Rp29 triliun sepanjang tahun 2025, atau 13 persen lebih tinggi dari target.

Kinerja laba ini ditopang oleh pendapatan sebesar Rp159 triliun atau 4 persen di atas target tahun 2025. Sementara EBITDA perseroan tercatat sebesar Rp42 triliun atau naik 3 persen dari target.

“Kinerja ini menunjukan kemampuan MIND ID dalam integrasi hulu ke hilir bisnis yang semakin baik. Di luar windfall profit yang diperoleh karena harga komoditas yang meningkat akibat situasi geopolitik yang tidak stabil,” kata pengamat BUMN Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto, Jumat (24/4/2026).

Toto menilai, perusahaan pelat merah tersebut memiliki peluang meningkatkan nilai tambah melalui diversifikasi produk. Ia menekankan pentingnya perseroan untuk masuk ke industri produk akhir, seperti baterai kendaraan listrik yang memiliki nilai lebih tinggi.

MIND ID kini melakukan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Proyek ini mencakup penambangan nikel, pembangunan fasilitas pengolahan di Halmahera Timur, hingga produksi baterai di Karawang.

Baca juga: Pendapatan Emiten Remala Rp86,39 Miliar di Kuartal I 2025, EBITDA Juga Naik

Selain itu, integrasi industri aluminium juga diperkuat melalui sinergi antara Antam di sektor hulu, pengolahan alumina oleh PT BAI, serta smelter aluminium oleh Inalum dengan dukungan energi dari PTBA.

Proyek fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit alumina aluminium terintegrasi di Mempawah, yang mana ini bertujuan meningkatkan nilai tambah dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

Pada komoditas emas, Antam tengah membangun fasilitas manufaktur logam mulia di Gresik dengan dukungan pasokan bahan baku dari Freeport. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Selain produksi, Toto juga menekankan pentingnya sinergi agar produk yang dihasilkan bisa terserap dengan baik. 

Baca juga: Emiten Menara Grup Saratoga Raup Laba Bersih Rp 1,42 Triliun Sepanjang 2025

Belakangan ini, perusahaan mengembangkan proyek gasifikasi batu bara menjadi DME melalui PTBA guna mengurangi ketergantungan impor LPG.

“Sinergi dengan BUMN lain atau sektor swasta juga bisa ditingkatkan supaya produk akhir hilirisasi, misal gasifikasi batubara (dimethyl ether) bisa mendapatkan pangsa pasar yang cukup,” tambahnya.

Pada akhirnya, Toto menekankan pentingnya penerapan prinsip good mining untuk menjaga keberlanjutan bisnis. Penggunaan teknologi terbaru juga dinilai krusial untuk meningkatkan efisiensi biaya dan menjaga daya saing.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved