Rupiah Tambah Loyo, Gubernur BI Temui Prabowo, Beber 7 Jurus Penguatan
Bank Indonesia akan menempuh tujuh langkah penting untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Ringkasan Berita:
- Bank Indonesia akan menempuh tujuh langkah penting untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
- BI akan terus melakukan intervensi melalui pasar spot dan transaksi derivatif valuta asing (Domestic Non-Deliverable Forward/DNDF) di dalam maupun luar negeri.
- Hari ini rupiah ditransaksikan di level Rp17.512 per dolar AS berdasar data terbaru Kurs Transaksi BI.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Hari ini, rupiah ditransaksikan di level Rp17.512 per dolar AS berdasar data terbaru Kurs Transaksi Bank Indonesia (BI).
Selasa lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah menembus level Rp 17.425 per dolar AS.
Mengantisipasi pelemahan rupiah yang terus terjadi, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan akan menempuh tujuh langkah penting untuk menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Seluruh langkah tersebut disampaikan Perry dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026).
"Kami melaporkan kepada Pak Presiden, dan Pak Presiden merestui, dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah stabil ke depan," ujar Perry dalam keterangannya usai bertemu Presiden di Istana, dikutip Rabu (6/5/2026).
Langkah pertama, BI akan terus melakukan intervensi melalui pasar spot dan transaksi derivatif valuta asing (Domestic Non-Deliverable Forward/DNDF) di dalam maupun luar negeri.
Menurutnya, cadangan devisa Indonesia, yang pada akhir Maret tercatat sebesar USD 148,2 miliar, masih sangat memadai sebagai amunisi untuk melaksanakan intervensi tersebut.
Kedua, kata Perry, BI dan pemerintah akan mengandalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik kembali arus modal asing.
"Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan terhadap rupiah dan pada akhirnya memperkuat nilai tukarnya terhadap dolar AS," kata dia.
Baca juga: Anjloknya Rupiah Tanda RI Terjadi Krisis? Ini Penjelasan Akademisi
Ketiga, BI kata dia, tengah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder senilai Rp123,1 Triliun.
"Kami sudah membeli SBN dari pasar sekunder year-to-date sebesar Rp123,1 triliun dan kami akan melakukan koordinasi. Koordinasi antara fiskal dan moneter sangat erat," ucap dia.
Keempat, untuk menjaga fondasi kekuatan rupiah, BI dan Kementerian Keuangan akan memastikan likuiditas perbankan tetap lebih dari cukup serta menjaga pertumbuhan uang primer (M0) tetap tinggi.
Menurutnya, pertumbuhan uang primer terakhir mencapai 14,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen, IHSG Berakhir Menghijau Tapi Rupiah Terjun Bebas, Mengapa?
Kelima, Perry menyebut kalau BI akan melanjutkan kebijakan pembatasan pembelian dolar AS tunai di pasar domestik dari sebelumnya USD 100 ribu per orang per bulan menjadi USD 50 ribu per orang per bulan.
"Bahkan, BI juga akan mempersiapkan kebijakan di mana pembelian Dolar AS di atas USD 25 ribu harus memakai underlying," tegas Perry.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/perry-warjiyo___.jpg)