Bisnis Photobooth
Bisnis Self-Photo Studio Booming, Master Plotter dan Epson Indonesia Gelar Community Gathering
Pertumbuhan tren self-photo studio mendorong Master Plotter dan Epson Indonesia menggelar community gathering bertajuk "Cetak Peluang, Panen Cuan".
TRIBUNNEWS.COM - PT Digital Media Grafindo (Master Plotter) bersama Epson Indonesia menggelar community gathering bertajuk "Cetak Peluang, Panen Cuan" di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Kegiatan tersebut digelar untuk merespons meluasnya tren self-photo studio dan photobooth di Indonesia yang membuka peluang bisnis baru di sektor ekonomi kreatif.
Acara tersebut menyasar calon pelaku usaha yang ingin masuk ke industri self-photo studio. Materinya berupa edukasi ekosistem bisnis photobooth yang lebih efisien dan terintegrasi, mulai dari perangkat cetak hingga sistem pembayaran digital.
Acara dibuka oleh Direktur Epson Indonesia Riswin Lie, dilanjutkan pemaparan materi oleh CEO Master Plotter Djulwardi. Pemaparan tersebut menyoroti peluang bisnis self-photo studio sekaligus strategi memaksimalkan potensi cuan di dalamnya.
Djulwardi mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus edukasi bagi pelaku ataupun calon entrepreneur di bidang fotografi.
"Harapannya, kegiatan ini bisa membantu mereka yang ingin terjun ke bisnis self-photo studio yang saat ini sedang booming dan masih memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar," ujar Djulwardi dalam siaran pers yang diterima Tribunnews.com, Senin (4/5/2026).
Selain pemaparan materi, sesi talkshow inspiratif turut menghadirkan sejumlah pelaku industri berpengalaman. Mereka di antaranya Joshua Iskandar dari Still Shoot, Mufrizal Akmal dari Zada Studio, M Yahya dari Waroeng Bingkai sebagai event photographer, Virdy dari Epson Indonesia, serta pengembang software Xbooth Abel Brata.
Peluang dan Tantangan Bisnis Self-Photo Studio
Antusiasme Master Plotter dan Epson Indonesia menggelar community gathering tersebut tidak lepas dari pesatnya pertumbuhan industri self-photo studio secara global.
Nilai pasarnya diperkirakan mencapai 818 juta dollar AS pada 2024 dan berpotensi menembus 1,9 miliar dollar AS pada 2034.
Berdasarkan laporan Global Market Insights dan Intel Market Research, tingkat pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) industri tersebut berada di kisaran 8,8 hingga 14,8 persen. Kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, menjadi wilayah dengan laju pertumbuhan tercepat.
Pertumbuhan itu didorong tingginya minat generasi muda terhadap pengalaman hiburan singkat yang personal dan mudah diakses.
Di Indonesia sendiri, tren ini berkembang seiring perubahan perilaku konsumen pascapandemi yang cenderung mencari micro-experiences berupa hiburan singkat, tapi berkesan.
Konsep self-photo tanpa fotografer memberikan ruang ekspresi yang lebih bebas, terutama bagi gen Z dan milenial. Pengalaman tersebut sekaligus menghadirkan nilai sentimental melalui hasil cetak fisik yang langsung dapat dibawa pulang.
Meski peluangnya besar, sebagian calon pelaku usaha masih menghadapi tantangan saat memulai bisnis ini. Tantangan tersebut mencakup kebutuhan perangkat berupa kamera, printer, software, hingga sistem pembayaran dan distribusi digital.
Investasi awal untuk satu unit photobooth diperkirakan berkisar Rp50 juta hingga Rp100 juta, di luar biaya sewa lokasi. Namun, dengan potensi kunjungan harian yang tinggi, bisnis ini dinilai memiliki periode balik modal relatif cepat, yakni sekitar tujuh bulan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/SESI-TALKSHOW.jpg)