Transformasi Sangkar Burung Eank Solo, Manfaatkan Barang Limbah Jadi Berkah
Memanfaatkan limbah jadi berkah, Sangkar Burung Eank Solo bukti UMKM kreatif bisa bersaing dengan wirausaha lainnya
“Saya langsung kepikiran, kalau bahannya sekuat itu kenapa nggak dicoba buat sangkar burung,” katanya sambil tersenyum.
Kebetulan, lingkungan tempat tinggalnya di Mojosongo memang dikenal sebagai sentra pengrajin sangkar berbahan kayu dan bambu.
Namun menurut Eko, bahan konvensional memiliki sejumlah kekurangan.
Ia mengaku sering mendengar keluhan pembeli soal sangkar kayu yang mudah lapuk, lembap, hingga rawan rusak setelah dipakai dalam waktu tertentu.
Dari situ, ia mulai mencoba membuat alternatif sangkar berbahan paralon bekas.
Pada awal merintis usaha, Eko mengaku tidak mudah meyakinkan pembeli.
Banyak orang meragukan sangkar berbahan pipa bekas bisa memiliki kualitas bagus.
Bahkan, ada yang menganggap produknya aneh karena berbeda dari sangkar pada umumnya.
“Awalnya banyak yang belum yakin. Karena biasanya sangkar identik dengan bambu atau kayu,” ujarnya.
Meski begitu, Eko tetap mencoba memasarkan produknya secara perlahan.
Ia mulai menawarkan sangkar buatannya ke pasar burung dan komunitas penghobi burung di Solo.
Seiring waktu, pembeli mulai datang kembali setelah mencoba kualitas sangkar buatannya.
Menurut Eko, ketahanan produk menjadi salah satu alasan pelanggan bertahan.
“Kalau bambu kadang cepat rusak atau dimakan rayap. Kalau paralon lebih awet,” katanya.
Perkembangan usahanya mulai terasa setelah bergabung dengan Rumah BUMN Solo pada 2017.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Produk-snagkar-burung-dari-limbah-pipa-bekas-dari-Eank-Solo.jpg)