Sepiring Tahu Kupat dan Kisah Pedagang Kecil Bertahan di Manahan
Bagi Mas Heri, KUR bukan sesuatu yang asing. Sudah beberapa kali memanfaatkan program pembiayaan tersebut untuk menopang usahanya
Harapan Tiba
Dalam situasi serba sempit, Mas Heri mengambil langkah yang menurutnya paling realistis, mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp15 juta pada 2022.
“Untuk sewa lahan sementara karena shelter dibongkar. Juga buat tambahan modal usaha,” katanya.
Bagi Mas Heri, KUR bukan sesuatu yang asing. Ia mengaku sudah beberapa kali memanfaatkan program pembiayaan tersebut untuk menopang usahanya.
Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa akses permodalan menjadi faktor penting bagi UMKM agar tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Fenomena yang dialami pedagang shelter Manahan sebenarnya menggambarkan persoalan klasik pelaku UMKM sektor kuliner.
Ketika krisis datang, kelompok usaha kecil menjadi pihak paling rentan terdampak. Mereka bergantung pada arus pengunjung harian, sementara modal usaha sering kali terbatas.
Di sisi lain, proses pembangunan dan penataan kota juga kerap menempatkan pedagang kecil dalam posisi sulit.
Relokasi sementara dapat mengurangi akses pelanggan, menurunkan omzet, hingga memaksa pedagang mengeluarkan biaya tambahan untuk tempat baru.
Kondisi tersebut membuat akses pembiayaan produktif seperti KUR menjadi salah satu penyangga penting agar usaha kecil tidak tumbang.
Modal tambahan membantu pelaku UMKM mempertahankan operasional, membayar sewa, membeli bahan baku, hingga menjaga perputaran usaha tetap hidup.
Keputusan Mas Heri mengambil KUR perlahan menunjukkan hasil.
Setelah shelter baru Manahan selesai dibangun, pengunjung mulai kembali berdatangan.
Kawasan kuliner yang lebih tertata membuat aktivitas perdagangan kembali bergerak.
Kini, warung Tahu Kupat Pak Har kembali ramai, terutama pada pagi hingga sore hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Heriyanto-berdiri-di-depan-lapak-Tahu-Kupat-Pak-Har-di-Shelter-Kuliner-Manahan-Solo.jpg)