Selasa, 19 Mei 2026

Gejolak Rupiah

Bilang Orang Desa Tak Terdampak Penguatan Dolar AS, Celios Tawarkan Kursus Ekonomi Gratis ke Prabowo

Prabowo disebut tidak paham sebuah masalah dan perlu melaksanakan kursus ekonomi secara lanjut.

Tayang:
Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden
PELEMAHAN RUPIAH - Presiden RI Prabowo Subianto. Center of Economics and Law Studies (Celios) menyayangkan pernyataan Presiden Prabowo yang menganggap orang desa tak terpengaruh penguatan dolar AS. 
Ringkasan Berita:
  • Bhima Yudhistira menilai Prabowo kurang memahami dampak pelemahan rupiah terhadap masyarakat dan ekonomi nasional.
  • Ekonom menegaskan warga desa tetap terdampak karena harga pupuk, pangan impor, hingga kebutuhan pokok dipengaruhi dolar AS.
  • Pernyataan Prabowo dinilai terlalu optimistis dan berpotensi memengaruhi kepercayaan pasar serta kesiapan masyarakat menghadapi tekanan ekonomi

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Ekonomi dari Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira merespons soal pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menanggapi menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

Pelemahan rupiah saat ini masih berlanjut di atas Rp17.600 per dolar AS.

Dalam pernyataannya, Prabowo menyebut kalau menguatnya dolar terhadap rupiah tidak perlu disikapi secara serius, karena orang Indonesia terlebih di desa tidak menggunakan dolar untuk bertransaksi.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.600, DPR Sebut Pengrajin Tahu Tempe Mulai Kelabakan

Menyikapi pernyataan itu, Bhima menyayangkan ucapan Prabowo yang notabene merupakan kepala negara. Prabowo disebut tidak paham sebuah masalah dan perlu melaksanakan kursus ekonomi secara lanjut.

"Prabowo kurang memahami masalah. Celios menawarkan kursus ekonomi gratis untuk Prabowo terutama soal nilai tukar," kata Bhima saat dimintai tanggapan oleh Tribunnewscom, Senin (18/5/2026).

Kata dia, memang masyarakat di desa tidak menggunakan dolar sebagai mata uang untuk transaksi, tetapi, faktanya melemahnya rupiah sebagai alat transaksi telah berdampak buruk untuk masyarakat.

Sebab, masyarakat Indonesia masih menggunakan bahan-bahan impor seperti pupuk untuk mengelola pertanian yang dimana melemahnya rupiah berpengaruh signifikan terhadap harga impor.

"Masyarakat di desa faktanya terdampak dengan pelemahan rupiah. harga pupuk untuk menanam beras, sampai tempe dan tahu yang kedelainya impor semua terpengaruh dolar," kata Bhima.

Dirinya lantas khawatir, pernyataan Prabowo yang secara gamblang disaksikan oleh para anak buahnya di kabinet itu justru membuat tekanan ekonomi yang kian buruk di tanah air.

Pasalnya, ucapan Prabowo yang bersifat over optimistis itu justru akan berdampak pada tekanan ekonomi dan kondisi rupiah di beberapa hari ke depan.

"Saya khawatir kata-kata yang bernada over optimis dari presiden membuat masyarakat tidak bersiap hadapi tekanan ekonomi. Begitu sudden shock, kaget dan yang dirugikan adalah masyarakat desa yang tidak punya persiapan apa-apa," katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet yang menyebut kalau sejatinya orang desa menjadi pihak yang paling berdampak dari melemahnya nilai rupiah terhadap dolar.

Kata dia, meski dolar tidak digunakan untuk kebutuhan transaksi di desa, namun sebagian besar dari mereka membutuhkan pupuk untuk bertani yang berasal dari impor.

"Jadi persoalannya bukan apakah mereka memegang dolar atau tidak, melainkan bagaimana pelemahan rupiah mempengaruhi harga kebutuhan sehari-hari yang mereka konsumsi," tuturnya kepada Tribunnewscom.

Atas hal itu, pernyataan Prabowo yang terlalu over optimistis itu kata Yusuf, hanya akan menimbulkan dampak buruk sekaligus kekhawatiran bagi masyarakat dan pasar.

Pasalnya dalam kondisi market yang fragile, persepsi seperti yang disampaikan Prabowo bisa berdampak langsung terhadap resiko premium aset domestik.

"Dampaknya ke depan juga perlu dicermati serius. Jika premi risiko terhadap aset rupiah tetap tinggi, biaya pembiayaan pemerintah dan korporasi akan ikut meningkat," tandas dia.

Orang Desa Tak Pakai Dolar AS

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyindir pihak-pihak yang kerap meramalkan ekonomi Indonesia akan mengalami kehancuran atau kolaps akibat fluktuasi nilai tukar mata uang asing. 

Hal itu disampaikan Presiden Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026) pagi.

Prabowo menegaskan, kondisi pangan dan energi nasional saat ini berada dalam posisi yang aman. 

Oleh sebab itu, ia meminta masyarakat tidak perlu panik dengan pergerakan mata uang dolar AS karena fundamental ekonomi riil di tingkat daerah tetap berjalan baik.

"Rupiah begini, rupiah begini, apa, dolar begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya banyak negara panik, Indonesia masih oke. Kita banyak, banyak yang diberikan Yang Maha Kuasa," ujar Presiden Prabowo.

Kemudian, saat menghadiri peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo berkelakar mengenai pergerakan nilai tukar rupiah.

Ia mengaitkan situasi ekonomi nasional dengan ekspresi dari Menkeu RI Purbaya Yudhi Sadewa.

"Purbaya sekarang populer banget Purbaya itu. Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja, enggak usah kau khawatir itu," seloroh Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo juga mengatakan bahwa fluktuasi nilai mata uang global ini sebenarnya tidak akan memberikan dampak yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat pedesaan. 

Menurutnya, perputaran ekonomi mikro di daerah tidak bergantung penuh pada mata uang asing.

"Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar, bener enggak? Yang pusing ya yang itu, yang suka ke luar negeri, ayo siapa ini?" lanjut Presiden Prabowo.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved