Selasa, 19 Mei 2026

Gejolak Rupiah

Dampak Rupiah Ambruk: Harga Pangan Naik, PHK hingga Petani Menjerit

Rupiah merosot ke level Rp17.727 dari posisi penutupan kemarin Rp 17.668 per dolar AS. Rupiah pagi tadi di buka di posisi Rp 17.679 per dolar AS.

Tayang:
Tribunnews/Jeprima
NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas merapikan tumpukan mata uang dollar di Kantor Cabang Muamalat Tower, Jakarta. Mengutip data Bloomberg, Selasa (19/5/2026), sekitar pukul 11.29 WIB, rupiah merosot ke level Rp17.727 dari posisi penutupan kemarin Rp 17.668 per dolar AS. Rupiah pagi tadi di buka di posisi Rp 17.679 per dolar AS. 

"Cash flow perusahaan bisa tergerus dan berpotensi mengguncang perusahaan, seperti PHK, dan atau produknya tidak terserap di pasaran," papar Tulus.

"Jadi secara empirik betapa simplistisnya bahwa rupiah yang makin terpuruk, berdampak sangat buruk bagi masyarakat kelas manapun, apalagi masyarakat menengah bawah, baik di desa dan atau perkotaan," sambungnya.

Petani Mengeluh

Petani kini harus menghadapi lonjakan harga pestisida dan perlengkapan pertanian yang membuat biaya produksi semakin membengkak.

Petani bernama Rojai (51) di Desa Tegal Karang, Kecamatan Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, mengaku kenaikan paling terasa terjadi pada pestisida, mulai dari herbisida, insektisida hingga fungisida.

Menurutnya, hampir semua jenis obat hama mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.

“Baik herbisida, insektisida ataupun fungisida itu rata-rata naik antara Rp 5.000 sampai Rp 10.000 per botol ukuran satu liter,” ujar Rojai dikutip dari Tribun Jabar.

“Saya nanya ke kios, katanya pertama kenaikan dari harga plastik atau bungkus pestisida. Yang kedua, ada sebagian bahan aktif pembuatan pestisida itu masih impor, sehingga berpengaruh terhadap harga karena dolar lagi naik, rupiah lagi melemah,” sambungnya.

Tak hanya pestisida, perlengkapan pertanian berbahan plastik juga ikut melonjak. Salah satunya selang untuk kebutuhan pompanisasi sawah yang kini harganya naik drastis.

“Terutama ini musim mau musim kering, sehingga banyak petani membeli selang untuk pompanisasi. Nah, itu naiknya nyampe 50 persen,” jelas dia.

Ia mengatakan, kondisi tersebut membuat biaya operasional pertanian ikut naik dan berdampak langsung terhadap pendapatan petani.

“Harga pestisidanya naik sehingga biaya operasional untuk menanggulangi hama itu sedikit naik,” katanya.

Beban Perbankan

Dosen Magister Ekonomi UMY, Dimas Bagus Wiranatakusuma, menegaskan bahwa hantaman depresiasi ini tidak lagi hanya menekan bank konvensional. Melainkan mulai merembet dan menguji dinding pertahanan likuiditas bank-bank syariah di tanah air.

Dimas memaparkan, karakteristik perbankan syariah yang mengedepankan prinsip kehati-hatian memang menjadi perisai awal. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved