Gejolak Rupiah
Disebut Prabowo Tak Pakai Dolar, Orang Desa Justru Paling Rentan Jika Rupiah Melemah
Ekonom mengatakan orang desa justru menjadi kelompok yang paling rentan jika rupiah melemah.
Ringkasan Berita:
- Ekonom Yusuf Rendy Manilet mengatakan warga desa menjadi kelompok paling rentan jika rupiah melemah.
- Hal ini menanggapi pernyataan Prabowo Subianto yang mengatakan orang desa tak memakai dolar.
- Yusuf mengatakan, pelemahan rupiah akan berdampak pada naiknya biaya hidup sehingga membuat kelompok menengah kehilangan daya beli.
TRIBUNNEWS.com - Ekonom dari Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan warga desa justru menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak melemahnya rupiah.
Hal ini disampaikan Yusuf menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal orang desa tak memakai dolar di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Yusuf menuturkan, meski warga desa tak memegang dolar secara fisik, mereka tetap terdampak pelemahan rupiah lewat rantai pasok barang dan jasa sehari-hari.
Contohnya, mulai dari pupuk urea dan NPK yang bahan bakunya diperoleh dari impor.
Solar untuk kebutuhan diesel sawah, serta pakan ternak yang bahan bakunya bergantung pada jagung dan bungkil kedelai impor.
Yusuf juga menyinggung soal penggunaan bahan baku aktif obat generik di fasilitas kesehatan yang didapat dari India dan China.
Baca juga: Benarkah Kata Prabowo Orang di Desa Tak Pakai Dolar? Padahal 90 Persen Kedelai Indonesia Masih Impor
Ia pun menekankan, semua itu dibayar menggunakan dolar AS.
"Dalam ekonomi modern, dampak kurs bekerja lewat rantai pasok, bukan lewat apakah seseorang memegang dolar atau tidak," kata Yusuf kepada Kontan.co.id, Minggu (17/5/2026).
Lebih lanjut, Yusuf membahas data Badan Pusat Statistik (BPS) soal inflasi pangan bergejolak (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered price) yang berpengaruh pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah, dibanding kelas menengah perkotaan.
Yusuf menilai, kelompok menengah masih memilki tabungan, kemampuan mengalihkan konsumsi, bahkan ada yang memiliki aset dalam valuta asing.
Ia kemudian menyinggung ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai, gula mentah, dan gandum.
Hal tersebut dikatakan Yusuf akan mempengaruhi harga tahu, tempe, mi instan, hingga tepung terigu ketika rupiah melemah.
Naiknya biaya hidup akibat rupiah yang melemah, ujar Yusuf, bisa menghilangkan daya beli masyarakat bagi keluarga menengah.
"Untuk rumah tangga desa dengan pengeluaran Rp2 juta sampai Rp3 juta per bulan, depresiasi rupiah 10 persen bisa menggerus daya beli riil sekitar 3 persen hingga 5 persen dalam beberapa bulan," ungkap dia.
Orang Desa Juga Pakai Barang Impor
Hal serupa juga dibahas oleh Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira.