Minggu, 31 Mei 2026

100 Persen Indonesia, Tata Metal Lestari Lepas Ekspor Baja Lapis ke Amerika Serikat dan Eropa

Keberhasilan menembus pasar Eropa dengan pre-verification CBAM menjadi momentum penting bagi transformasi industri baja nasional.

Tayang:
Penulis: Sanusi
HO/IST
PT Tata Metal Lestari melepas produk baja lapis ke AS dan Polandia, sekaligus meraih sertifikasi CBAM Uni Eropa yang membuka akses pasar Eropa 

Ringkasan Berita:
  • PT Tata Metal Lestari melepas ekspor baja lapis ke AS dan Polandia senilai USD 3,6 juta, sekaligus meraih pre-verification CBAM Uni Eropa dengan emisi 2,2 tCO2/ton.
  • Capaian ini menegaskan daya saing baja nasional di pasar global serta mendukung transformasi menuju industri rendah karbon.

 

TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - PT Tata Metal Lestari (TML) melepas ekspor produk baja lapis ke Amerika Serikat dan Polandia dari fasilitas produksinya di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jumat (22/5/2026).

Pelepasan ekspor ini menjadi penanda penting bagi industri baja nasional di tengah tantangan perdagangan global dan meningkatnya tuntutan standar lingkungan internasional.

Hadir pada pelepasan ekspor tersebut antara lain Deputi Bidang Pengawasan dan Pengendalian Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS) Fahrid Amran, Direktur Komersial PT Krakatau Steel Hernowo yang mewakili Direktur Utama Akbar Djohan, perwakilan dari Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, serta Co-Executive Director asosiasi The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Yerry Idroes.

Baca juga: Industri Baja Tertekan, Krakatau Osaka Steel Tutup Mulai Juni 2026

Produk yang diekspor dari Cikarang ini meliputi baja lapis aluminium seng (BJLAS) bermerek Nexalume, baja lapis seng (BJLS) bermerek Nexium, serta baja lapis warna Nexcolor untuk pasar Amerika Serikat dan Polandia. Sejak pecah perang Amerika Serikat dan Iran tiga bulan yang lalu, nilai ekspor Tata Metal Lestari ke beberapa negara telah mencapai sekitar 3,6 juta dollar AS.

Pelepasan ekspor tersebut dinilai memiliki arti strategis karena untuk pertama kalinya produk baja lapis Indonesia memperoleh compliance certificate Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa.

Informasi awal, Industri baja Indonesia memperoleh default value (nilai standar) 8,2 tCO2/ton product. Tetapi, melalui verifikasi awal, Tata Metal Lestari mampu memperoleh nilai hingga 2,2 tCO2/ton product setara dengan jepang dan negara maju lainnya yang telah memiliki standar hijau. Pre- verification tersebut membuka akses pasar Eropa yang kini menerapkan standar pelaporan emisi karbon secara lebih ketat terhadap produk impor industri manufaktur.

Selain itu, produk ekspor TML juga menggunakan 100 persen baja substrat hasil proses melt and pour dalam negeri yang dipasok PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Penggunaan bahan baku domestik tersebut dinilai memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekaligus memenuhi tuntutan traceability pasar internasional, khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa.
 
VP Operations PT Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi mengatakan, capaian ini menunjukkan bahwa industri baja nasional masih memiliki daya saing di pasar global meski menghadapi tekanan perdagangan internasional.

“Dengan ini kita ingin menunjukkan bahwa industri nasional masih memiliki peluang untuk ekspor di Tengah diberlakukannya kebijakan tarif Section 232 dan anti circumvention Amerika Serikat serta dinamika ekonomi global,” tukasnya. Stephanus percaya bahwa kolaborasi industri hulu dan hilir nasional menjadi kunci untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Keberhasilan menembus pasar Eropa dengan pre-verification CBAM, tambahnya, juga menjadi momentum penting bagi transformasi industri baja nasional menuju industri rendah karbon.

Dari Lokasi pelepasan ekspor, Direktur Komersial PT Krakatau Steel Hernowo menyampaikan bahwa kontinuitas ekspor mampu mendukung keberlangsungan industri baja dari hulu hingga hilir.

“Saya apresiasi kemampuan ekspor Tata Metal masih terus berlangsung di Tengah hambatan perdagangan yang semakin besar,” lanjutnya.

Selain itu, Hernowo menambahkan bahwa Krakatau Steel akan terus mendukung suplai bagi industri baja antara, diantaranya Tata Metal Lestari untuk memenuhi target presiden guna mengembangkan steel making industry hingga 1,5 juta ton/tahun.

“Kami ingin meningkatkan konsumsi baja nasional per kapita yang saat ini masih mencapai 65 kg per orang per tahun sementara negara tetangga seperti Malaysia sudah 150 kg ton per kapita per orang per tahun,” katanya.

Menurut Hernowo, konsumsi baja adalah salah satu indikator kemajuan sebuah negara.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved