Sistem Keuangan Tradisional Diprediksi Makin Terintegrasi dengan Ekosistem Digital
Sistem keuangan tradisional ke depan diprediksi akan semakin terintegrasi dengan ekosistem keuangan digital.
Ringkasan Berita:
- Sistem keuangan tradisional ke depan diprediksi akan semakin terintegrasi dengan ekosistem keuangan digital.
- Tren ini terjadi seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi berbasis teknologi dan aset digital.
- Minat investor terhadap diversifikasi aset dan instrumen safe haven ke depan juga diprediksi terus meningkat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Transformasi digital di sektor keuangan terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi berbasis teknologi dan aset digital.
Perubahan perilaku masyarakat, perkembangan teknologi blockchain, serta kebutuhan akses investasi yang Tren ini dinilai menjadi bagian dari perubahan ekosistem keuangan global yang semakin menghubungkan layanan perbankan tradisional dengan teknologi finansial digital.
Head of Universe Merchant Business and Interlink Development Bank Nobu, Chandra Lesmana, mengatakan sistem keuangan tradisional atau traditional finance (TradFi) ke depan akan semakin terintegrasi dengan ekosistem keuangan digital.
“Membangun ekosistem keuangan yang lebih inklusif, praktis, dan mudah diakses oleh masyarakat saat ini sudah menjadi kebutuhan,” kata Chandra di sela penandatanganan kerjasama Bank Nobu dengan Bittime di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Menurut dia, integrasi layanan perbankan dengan platform aset digital diharapkan dapat memberikan pengalaman investasi yang lebih nyaman sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Kolaborasi tersebut juga menjadi respons terhadap meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan investasi yang dapat diakses secara cepat, fleksibel, dan efisien melalui perangkat digital.
Business Director Bittime, Junji Misael, mengatakan kerja sama tersebut bertujuan mempermudah investor melakukan diversifikasi aset di tengah kondisi pasar yang masih volatil.
Baca juga: OJK Catat 17 Juta Pengguna Aset Keuangan Digital, Industri Dituntut Tingkatkan Perlindungan Konsumen
Ia menjelaskan, integrasi layanan memungkinkan perpindahan dana dari Rupiah ke aset digital dilakukan lebih praktis dan efisien sehingga akses investasi menjadi semakin mudah bagi masyarakat.
“Melalui integrasi ini, pengguna dapat melakukan transaksi mulai dari deposit Rupiah hingga investasi di aset digital dan tokenized global assets dalam satu ekosistem,” ujar Junji.
Menurut dia, kondisi pasar global yang fluktuatif membuat investor mulai mencari alternatif instrumen investasi seperti dolar AS, emas, dan aset global lainnya sebagai diversifikasi portofolio sekaligus lindung nilai atau safe haven.
Konsep tokenisasi aset global juga dinilai membuka akses investasi yang lebih luas karena masyarakat dapat membeli aset secara fraksional, termasuk emas, dolar AS, maupun saham Amerika Serikat.
Baca juga: Skor Kredit Terbuka, Publik Diminta Cermat Hadapi Layanan Keuangan Digital
Dengan skema tersebut, investor ritel dapat mulai berinvestasi dengan modal yang relatif lebih terjangkau dibanding investasi konvensional.
Selain menawarkan lebih banyak pilihan investasi, layanan aset digital juga semakin diminati karena dapat diakses selama 24 jam dan menawarkan proses transaksi yang lebih cepat.
Dalam kerja sama tersebut, proses registrasi, verifikasi identitas atau know your customer (KYC), hingga transaksi aset digital pertama diklaim dapat dilakukan sekitar 10 menit.
Pengamat industri keuangan digital menilai integrasi layanan perbankan dan aset digital menjadi bagian dari transformasi sistem keuangan yang semakin mengarah pada ekosistem berbasis teknologi dan konektivitas tinggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kerjasama-ekosistem-keuangan-digital-OK.jpg)