Kamis, 28 Mei 2026

Belajar Bertahan dari Jejamuran, Kisah Arif Tumbuh Bersama Usaha Jamur di Sleman

Bekerja sejak 2012 di Jejamuran, Arif merasa bukan cuma pekerjaan yang didapat. Ratidjo menjadi teladan semangat

Tayang:
Tribunnews.com/Facundo Chrysnha Pradipha
AGROWISATA JEJAMURAN - Ahmad Arif Nugroho pemandu di Agrowisata Jejamuran, Sleman, DIY. Bekerja sejak 2012 di Jejamuran, Arif merasa bukan cuma pekerjaan yang didapat. Ratidjo menjadi teladan semangat 

Hasilnya baru benar-benar terasa beberapa tahun terakhir.

Dari pekerjaannya di Jejamuran, Arif kini sudah bisa memiliki rumah sendiri, motor, hingga mobil.

“Alhamdulillah sekarang sudah punya rumah, kendaraan juga ada,” katanya.

Pencapaian itu tidak datang cepat. Semua berjalan pelan-pelan sejak ia mulai bekerja lebih dari sepuluh tahun lalu.

Lama bekerja di Jejamuran juga membuat Arif ikut memahami cara budidaya jamur secara langsung. Sebagian besar ia pelajari dari praktik sehari-hari di lapangan. “Belajarnya sambil jalan,” ujarnya.

Salah satu jenis jamur yang dibudidayakan di Agrowisata Jejamuran Sleman
JAMUR DI JEJAMURAN - Salah satu jenis jamur yang dibudidayakan di Agrowisata Jejamuran Sleman

Setiap hari ia mendampingi pengunjung yang datang ke area agrowisata, mulai anak TK, pelajar, sampai mahasiswa. Biasanya mereka diajak masuk ke kumbung untuk melihat proses budidaya jamur dari dekat.

Di sana Arif menjelaskan satu per satu jenis jamur yang ditanam beserta cara perawatannya.

Menurut dia, tidak semua jamur bisa tumbuh di kondisi yang sama. Jamur portobello dan jamur kancing misalnya, membutuhkan suhu dingin karena berasal dari wilayah Eropa.

“Kalau portobello biasanya dipakai buat topping pizza,” katanya.

Untuk menjaga suhu tetap stabil, ruang budidaya menggunakan pendingin ruangan sekitar 17 derajat Celsius. Dalam satu siklus, budidaya bisa berlangsung sekitar 90 hari.

Meski begitu, sebagian jamur biasanya sudah mulai bisa dipanen saat memasuki hari ke-60.

Kondisi kumbung juga harus dijaga selama 24 jam. Ketika listrik padam, genset langsung dinyalakan agar suhu dan kelembapan tidak berubah drastis.

“Kalau terlalu panas pertumbuhannya bisa terganggu,” ujar Arif.

Karena itu selalu ada pekerja yang berjaga, termasuk pada malam hari.

Selain budidaya, Arif juga ikut mengenalkan proses pengolahan hasil panen kepada pengunjung. Menurut dia, Jejamuran sekarang tidak lagi hanya menjual jamur segar seperti dulu.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved