Minggu, 31 Mei 2026

Belajar Bertahan dari Jejamuran, Kisah Arif Tumbuh Bersama Usaha Jamur di Sleman

Bekerja sejak 2012 di Jejamuran, Arif merasa bukan cuma pekerjaan yang didapat. Ratidjo menjadi teladan semangat

Tayang:
Tribunnews.com/Facundo Chrysnha Pradipha
AGROWISATA JEJAMURAN - Ahmad Arif Nugroho pemandu di Agrowisata Jejamuran, Sleman, DIY. Bekerja sejak 2012 di Jejamuran, Arif merasa bukan cuma pekerjaan yang didapat. Ratidjo menjadi teladan semangat 

“Saya kapok jadi orang miskin,” kata Ratidjo.

Kalimat itu menjadi dorongan bagi dirinya untuk terus bergerak mencari jalan usaha, meski harus memulai dari bawah tanpa pengalaman dan modal besar.

KAPOK MISKIN - Ratidjo Harjo Suwarno, pemilik Jejamuran, Sleman, DIY, Selasa (14/4/2026).
KAPOK MISKIN - Ratidjo Harjo Suwarno, pemilik Jejamuran, Sleman, DIY, Selasa (14/4/2026). (Tribunnews.com/Facundo Chrysnha Pradipha)

Saat mulai mengenal budidaya jamur, Ratidjo mengaku tidak memiliki latar belakang pertanian yang kuat. Pendidikan formalnya hanya sampai STM Kimia. Sebagian besar pengetahuan soal jamur ia pelajari langsung dari praktik di lapangan.

Ia belajar memahami karakter jamur sedikit demi sedikit, mulai dari suhu, kelembapan, hingga media tanam yang sesuai.

Menurutnya, mengelola jamur tidak cukup hanya mengandalkan teori.

“Kalau gagal biasanya bukan jamurnya, tapi kita yang belum paham cara mengelolanya,” ujarnya.

Tantangan terbesar saat itu bukan hanya soal budidaya, tetapi juga pasar. Pada awal merintis usaha, masyarakat masih asing dengan jamur konsumsi dan menganggapnya berbahaya.

Karena itu Ratidjo harus berkeliling selama bertahun-tahun untuk mengenalkan jamur kepada masyarakat. Bersama istrinya, ia menjual hasil panen dari rumah ke rumah sambil memberi penjelasan bahwa jamur budidaya aman dikonsumsi.

Kendala lain datang dari keterbatasan modal usaha.

Ratidjo mengaku sempat kesulitan mendapatkan pinjaman karena usahanya dianggap kecil dan belum menjanjikan. Pinjaman pertama ia peroleh dari BPR sekitar Rp10 juta sebelum akhirnya mendapatkan tambahan modal Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sekitar Rp25 juta.

Dana tersebut dipakai untuk membangun fasilitas usaha secara bertahap.

Saat itu kondisi Jejamuran masih sederhana. Meja dan kursi memakai barang bekas, bahkan sebagian meminjam dari warga sekitar ketika pengunjung mulai ramai.

“Yang penting usaha tetap jalan,” katanya.

Dari usaha kecil tersebut, Ratidjo perlahan membangun Jejamuran menjadi pusat kuliner dan wisata edukasi jamur di Sleman sejak dirintis pada 2006.

Strategi yang ia jalankan tidak hanya menjual jamur segar, tetapi mengembangkan berbagai turunan usaha agar hasil panen memiliki nilai tambah.

Jamur diolah menjadi menu makanan, keripik, hingga produk pengalengan. Pengunjung juga diajak melihat langsung proses budidaya melalui konsep agrowisata.

Saat ini Jejamuran berkembang ke berbagai bidang usaha, mulai dari budidaya jamur, rumah makan, penjualan bibit dan media tanam, pelatihan, cooking class, katering, hingga kunjungan industri.

Jejamuran juga bekerja sama dengan petani plasma untuk menjaga pasokan bahan baku.

Perkembangan usaha itu ikut membuka lapangan pekerjaan bagi ratusan warga sekitar. Sebelum pandemi Covid-19, jumlah pekerja di Jejamuran mencapai sekitar 350 orang dan saat ini sekitar 250 pekerja.

Meski usahanya berkembang besar, Ratidjo mengaku masih memegang prinsip yang sama sejak awal merintis usaha: tidak berhenti belajar dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah.

“Kalau jatuh ya bangun lagi. Hidup itu sekolah,” ujarnya.

(*)

Sesuai Minatmu
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved