Sabtu, 30 Mei 2026

Belajar Bertahan dari Jejamuran, Kisah Arif Tumbuh Bersama Usaha Jamur di Sleman

Bekerja sejak 2012 di Jejamuran, Arif merasa bukan cuma pekerjaan yang didapat. Ratidjo menjadi teladan semangat

Tayang:
Tribunnews.com/Facundo Chrysnha Pradipha
AGROWISATA JEJAMURAN - Ahmad Arif Nugroho pemandu di Agrowisata Jejamuran, Sleman, DIY. Bekerja sejak 2012 di Jejamuran, Arif merasa bukan cuma pekerjaan yang didapat. Ratidjo menjadi teladan semangat 

Sebagian besar hasil panen sudah diolah menjadi berbagai menu makanan.

Di restoran Jejamuran sendiri terdapat puluhan menu berbahan dasar jamur.

BUDIDAYA JAMUR - Jamur hasil budidaya di Jejamuran, Sleman, DIY
BUDIDAYA JAMUR - Jamur hasil budidaya di Jejamuran, Sleman, DIY (Tribunnews.com/Facundo Chrysnha Pradipha)

“Satu jenis jamur bisa jadi beberapa menu,” katanya.

Ada pula produk keripik jamur yang diproduksi menggunakan mesin berkapasitas sekitar 50 kilogram sekali proses.

Selain itu, Jejamuran juga memproduksi jamur kaleng tanpa bahan pengawet yang bisa bertahan hingga dua tahun setelah melalui proses sterilisasi.

Untuk menjaga kualitas bahan baku, Jejamuran hanya menanam jenis jamur yang digunakan untuk kebutuhan restoran.

Sebagian pasokan juga berasal dari petani plasma yang bekerja sama sejak akhir 1990-an.

Menurut Arif, kebutuhan jamur di Jejamuran cukup besar. Untuk jamur tiram misalnya, satu baglog rata-rata menghasilkan sekitar 200 sampai 300 gram dalam sekali panen.

Sementara total hasil panen harian bisa mencapai sekitar 100 kilogram.

Selain restoran dan agrowisata, usaha Jejamuran kini juga berkembang ke penjualan bibit, media tanam, katering, hingga kebutuhan wedding.

Meski usaha terus berkembang, suasana kerja di Jejamuran menurut Arif masih terasa dekat seperti keluarga.

Buat Arif, Jejamuran bukan cuma tempat kerja. Dari tempat itu ia bisa pelan-pelan memperbaiki hidup sambil belajar banyak hal dari orang-orang yang ada di dalamnya.

Pegangan Hidup Ratidjo

Sebelum dikenal sebagai pelopor wisata kuliner berbasis jamur di Yogyakarta, Ratidjo pernah menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup.

Ia pernah menjadi laden tukang, menjual bunga kantil, hingga bekerja di perusahaan batik. Ada masa ketika ia hanya makan sekali sehari.

Kondisi itulah yang kemudian membentuk prinsip hidup yang terus dipegangnya sampai sekarang.

Sesuai Minatmu
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved