Harga Saham
IHSG dan Rupiah Kompak Berakhir Ambruk, Pasar Dibayangi Konflik Timur Tengah
IHSG sesi pertama sempat menguat cukup solid di awal-awal sesi perdagangan, namun IHSG gagal mempertahankan momentum naik.
Lebih jauh, tanggapan dari pemerintah Iran di Teheran terhadap serangan baru ini juga belum memberikan efek yang jelas.
Kata dia, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran.
"Terutama setelah Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut," kata Ibrahim.
Selain itu, pasar juga menyoroti isyarat yang disampaikan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini terkait kemajuan negosiasi dengan Iran.
Mereka mengklaim bahwa republik Islam tersebut akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya.
"Iran sebagian besar membantah rencana untuk melepaskan uraniumnya, meskipun laporan menunjukkan negara tersebut terbuka untuk negosiasi lebih lanjut mengenai aktivitas nuklirnya," kata dia.
Ibrahim lantas menilai kalau kombinasi sentimen global tersebut yang membuat rupiah sulit untuk menguat dalam jangka pendek.
Tak hanya faktor dari eksternal, melemahnya rupiah juga kata dia, dipengaruhi oleh faktor di dalam negeri atau internal.
Kata Ibrahim, krisis kepercayaan yang berdampak terhadap krisis ekonomi sudah mulai nampak didepan mata akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang belum jelas sampai kapan pelemahan ini akan terjadi.
Kondisi itu juga kata dia, berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Lonjakan PHK terjadi hanya dalam satu bulan terakhir. Kondisi tersebut mulai berdampak pada sejumlah perusahaan yang melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional," kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/IHSG-Kembali-Melemah-Pada-Penutupan-Perdagangan_20260202_211617.jpg)