Harga Saham
IHSG dan Rupiah Kompak Berakhir Ambruk, Pasar Dibayangi Konflik Timur Tengah
IHSG sesi pertama sempat menguat cukup solid di awal-awal sesi perdagangan, namun IHSG gagal mempertahankan momentum naik.
Ringkasan Berita:
- IHSG ditutup merosot 1,23 persen ke level 6.130,19 sementara rupiah melemah ke Rp17.796 per dolar AS pada perdagangan Selasa (26/5/2026).
- Pelemahan pasar dipicu memanasnya kembali konflik AS-Iran setelah serangan militer AS di Iran Selatan yang memicu kekhawatiran baru di pasar global.
- Pengamat menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor domestik seperti meningkatnya biaya produksi, efisiensi perusahaan, hingga lonjakan PHK akibat tekanan ekonomi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (26/5/2026) berakhir ambruk.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup merosot 1,23 persen atau 76,16 poin ke level 6.130,19 dari posisi penutupan kemarin 6.206,35.
Pergerakan IHSG sepanjang perdagangan di kisaran 6.124,79 hingga 6.286,87.
Baca juga: Dibuka ke Zona Merah, Tiba-tiba IHSG Melonjak Beberapa Menit Dimulainya Perdagangan
Nilai transaksi investor di pasar saham mencapai Rp18,01 triliun dengan melibatkan 23,06 miliar lembar saham.
Ada 461 saham melemah, 258 saham menguat, dan 240 saham stagnan.
Sedangkan nilai tukar rupiah melemah 52 poin ke level Rp17.796 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS.
Konflik Timur Tengah
Pelemahan IHSG dan rupiah sama-sama disebabkan kembali tegangnya kawasan Timur Tengah, konflik antara Ameriak Serikat dan Iran.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menyampaikan, pelaku pasar mencermati tanda-tanda de-eskalasi konflik antara AS dengan Iran.
Menurutnya, IHSG sesi pertama sempat menguat cukup solid di awal-awal sesi perdagangan, namun IHSG gagal mempertahankan momentum dan ditutup melemah 0,91 persen ke level 6.150 di penghujung perdagangan sesi I.
"Bursa Asia diperdagangkan beragam hingga siang ini, menyusul serangan AS ke Iran Selatan yang mengguncang pembicaraan damai," papar Nafan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, terdapat beberapa faktor yang membuat rupiah merosot, termasuk dari faktor eksternal.
Dimana, sentimen negatif terhadap ketidakpastian di Timur Tengah yang baru-baru ini terjadi yakni saat AS kembali melancarkan serangan terhadap lokasi peluncuran rudal di Iran Selatan menjadi salah satu sinyal kekhawatiran baru bagi pasar.
"Militer AS mengklaim bahwa serangan tersebut dilakukan untuk membela diri, dan bahwa gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku," kata Ibrahim.
Lebih jauh, tanggapan dari pemerintah Iran di Teheran terhadap serangan baru ini juga belum memberikan efek yang jelas.
Kata dia, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran.
"Terutama setelah Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut," kata Ibrahim.
Selain itu, pasar juga menyoroti isyarat yang disampaikan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini terkait kemajuan negosiasi dengan Iran.
Mereka mengklaim bahwa republik Islam tersebut akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya.
"Iran sebagian besar membantah rencana untuk melepaskan uraniumnya, meskipun laporan menunjukkan negara tersebut terbuka untuk negosiasi lebih lanjut mengenai aktivitas nuklirnya," kata dia.
Ibrahim lantas menilai kalau kombinasi sentimen global tersebut yang membuat rupiah sulit untuk menguat dalam jangka pendek.
Tak hanya faktor dari eksternal, melemahnya rupiah juga kata dia, dipengaruhi oleh faktor di dalam negeri atau internal.
Kata Ibrahim, krisis kepercayaan yang berdampak terhadap krisis ekonomi sudah mulai nampak didepan mata akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang belum jelas sampai kapan pelemahan ini akan terjadi.
Kondisi itu juga kata dia, berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Lonjakan PHK terjadi hanya dalam satu bulan terakhir. Kondisi tersebut mulai berdampak pada sejumlah perusahaan yang melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional," kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/IHSG-Kembali-Melemah-Pada-Penutupan-Perdagangan_20260202_211617.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.