Rabu, 3 Juni 2026

Gejolak Rupiah

Dolar AS Kian Perkasa, Rupiah Ditutup Ambruk ke Level Rp17.839

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bahkan sempat menyentuh titik terendah dengan pelemahan hingga 85 poin.

Tayang:
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
RUPIAH MELEMAH - Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan. Sedangkan untuk perdagangan besok, diprediksi ditutup melemah di rentang Rp17.840- Rp17.900 per dolar AS. 
Ringkasan Berita:
  • Rupiah ditutup melemah 34 poin ke level Rp17.839 per dolar AS dan sempat menyentuh pelemahan hingga 85 poin pada perdagangan Selasa.
  • Ibrahim Assuaibi menyebut ketidakpastian global, termasuk perkembangan konflik Iran-AS, Selat Hormuz, dan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump menjadi faktor utama tekanan terhadap rupiah.
  • Di dalam negeri, inflasi Mei 2026 tercatat 3,08 persen, PMI manufaktur naik ke 50,0, dan neraca perdagangan mencatat surplus 5,64 miliar dolar AS selama Januari-April 2026.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada penutupan perdagangan, Selasa (2/6/2026) sore ke level Rp17.839 per dolar AS.

Mata uang Garuda itu melemah 34 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp17.805 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bahkan sempat menyentuh titik terendah dengan pelemahan hingga 85 poin.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 34 point sebelumnya sempat melemah 85 point dilevel Rp.17.839 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.805," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2026).

Ambruknya rupiah itu kata Ibrahim turut dipengaruhi adanya sektor eksternal salah satunya ketidakpastian global yang terus berlanjut.

Terlebih kebijakan Presiden AS Donald Trump terbaru terkait konflik di Timur Tengah dan perubahan tarif impor sebagai faktor utama yang memicu ketidakpastian pasar global.

"Kita melihat ada kontradiksi. Di satu sisi, faktor eksternal sangat dinamis karena pernyataan Trump soal Iran dan Selat Hormuz. Namun di sisi lain, data domestik kita seperti inflasi dan manufaktur masih di zona aman," ujar dia.

Tak hanya itu, pernyataan Trump yang berubah-ubah terkait negosiasi dengan Iran juga justru menjadi ketidakpastian global memuncak.

"Kuncinya ada di Selat Hormuz. Iran sempat menghentikan hampir semua pengiriman, yang mengakibatkan pasokan gas dan minyak dunia tercekik hingga 20 persen. Ini yang membuat harga energi melonjak 50 persen dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah," jelas Ibrahim.

Selain itu, Trump baru-baru ini juga menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor tembaga, aluminium, dan besi.

Proklamasi tersebut diyakini Ibrahim dapat menurunkan tarif untuk beberapa peralatan pertanian dari 25 persen menjadi 15%.

Menurut dia, kebijakan proteksionisme AS ini bertujuan membangun kembali basis industri mereka, namun berisiko mengganggu arus perdagangan global.

Selain berasal dari eksternal, pelemahan rupiah juga terjadi karena adanya faktor internal atau yang berada di dalam negeri meski pemerintah mencatatkan angka yang baik untuk kondisi perekonomian RI.

Dimana, Badan pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Mei 2026. 

Selian itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. 

"Adapun secara tahun kalender (year-to-date/ytd) inflasi tercatat sebesar 1,35 persen dan secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,28 persen," kata dia.

Lebih jauh, berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah terkontraksi ke 49,1 pada April 2026.  

Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri di RI kata dia, masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi.  

"Berdasarkan laporan S&P Global, posisi PMI pada Mei mengindikasikan kondisi operasional manufaktur yang stabil setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya," kata dia.

"Perbaikan terutama ditopang oleh peningkatan permintaan domestik yang mendorong kenaikan pesanan baru selama 2 bulan berturut-turut. Kenaikan pesanan baru pada Mei menjadi yang tercepat sejak Februari," sambung Ibrahim. 

Kemudian, BPS merilis surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut hingga April 2026 meski ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global belum mereda. 

Tak cukup di situ, kinerja ekspor nonmigas, terutama dari sektor industri pengolahan, menjadi penopang utama surplus perdagangan nasional. 

"Surplus neraca perdagangan secara kumulatif Januari-April 2026 mencapai 5,64 miliar dolar AS. Neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata dia.

Dirinya lantas menyarankan agar pemerintah terus memperkuat pasar domestik untuk meredam guncangan yang datang dari kebijakan-kebijakan tak terduga Donald Trump di masa depan.

"Jika harga energi terus naik akibat konflik Iran, maka biaya produksi di dalam negeri akan membengkak," pungkas Ibrahim.

Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal bergerak fluktuatif, namun diprediksi ditutup melemah direntang Rp17.840- Rp17.900 per dolar AS.

 

 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved