Harga Timah Melonjak 34 Persen, Momentum Hilirisasi Industri Nasional Makin Kuat
Sekitar 50 persen konsumsi timah dunia berasal dari sektor solder yang digunakan dalam industri semikonduktor dan elektronik.
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga timah dunia sebesar 34,7 persen pada kuartal I 2026 menjadi katalis positif bagi industri timah nasional
- PT Timah Tbk mencatat lonjakan pendapatan 160,5 persen seiring peningkatan produksi, penjualan, dan harga jual logam timah
- Momentum ini dimanfaatkan MIND ID untuk mempercepat hilirisasi guna menciptakan produk bernilai tambah dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kenaikan harga timah dunia sepanjang kuartal I 2026 menjadi angin segar bagi industri timah nasional. Penguatan harga komoditas ini tidak hanya mendongkrak kinerja pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang percepatan hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Berdasarkan data London Metal Exchange (LME), rata-rata harga timah atau Cash Settlement Price (CSP) pada kuartal I 2026 mencapai US$48.679,68 per metrik ton. Angka tersebut melonjak 34,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level US$36.134,37 per metrik ton.
Dari sisi permintaan, prospek timah global masih menunjukkan tren positif. Sekitar 50 persen konsumsi timah dunia berasal dari sektor solder yang digunakan dalam industri semikonduktor dan elektronik.
Baca juga: Perkuat Hilirisasi, Arsari Tambang akan Bangun Pusat Riset Timah dan REE di Bangka
Permintaan dari sektor tersebut diperkirakan terus meningkat seiring perkembangan teknologi, termasuk percepatan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), ekspansi pusat data, pengembangan sistem penyimpanan energi, serta meningkatnya investasi pada infrastruktur kelistrikan.
Kondisi tersebut menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat industri timah nasional, khususnya melalui pengembangan sektor hilir dan produk bernilai tambah.
Berdasarkan laporan CRU Tin Monitor, produksi logam timah global pada kuartal I 2026 mencapai 90.645 ton, sementara konsumsi diperkirakan sebesar 89.036 ton. Kondisi ini mencerminkan keseimbangan pasar yang relatif solid dan mendukung stabilitas harga komoditas.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, PT Timah (Persero) Tbk (TINS), anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, mencatat pertumbuhan kinerja yang signifikan. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp5,47 triliun pada kuartal I 2026, meningkat 160,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,10 triliun.
Peningkatan kinerja tersebut mencerminkan dampak positif kenaikan harga timah global sekaligus keberhasilan perusahaan dalam memanfaatkan momentum pasar untuk memperkuat bisnisnya.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai kinerja positif TINS ditopang oleh membaiknya kondisi industri timah dunia.
"Kinerja timah terdorong kenaikan harga timah dunia, membaiknya ekspor, peningkatan produksi, serta efisiensi operasional dan penurunan beberapa beban biaya," ujar Lukman.
Dari sisi operasional, hingga kuartal I 2026 TINS membukukan produksi bijih timah sebesar 6.312 ton Sn atau meningkat 96 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3.225 ton Sn.
Produksi logam timah juga meningkat 82 persen menjadi 5.630 metrik ton Sn dari sebelumnya 3.095 metrik ton Sn. Sementara itu, penjualan logam timah melonjak 113 persen menjadi 6.009 metrik ton dibandingkan 2.824 ton pada kuartal I 2025.
Perseroan turut menikmati kenaikan harga jual rata-rata logam timah menjadi US$49.221 per metrik ton, naik 51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$32.495 per metrik ton.
Dari sisi pasar, penjualan masih didominasi ekspor dengan kontribusi mencapai 97 persen. China menjadi tujuan utama dengan porsi sekitar 48 persen dari total ekspor perusahaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/MIND-ID-hilirisasi-timah-1.jpg)