Gejolak Rupiah
Rupiah Tembus Rp18.000: Ekonom Ingatkan PHK, Pejabat Pemerintahan Prabowo Tetap Tenang
Rupiah tembus Rp18.000 picu kekhawatiran PHK, sementara pemerintah dan BI menilai kondisi ekonomi masih terkendali.
Ia menyebut kondisi rupiah masih sesuai skenario APBN yang telah mengantisipasi berbagai risiko global.
BI Perkuat Intervensi Pasar
Bank Indonesia menyebut pelemahan rupiah dipicu tekanan eksternal, terutama geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia.
BI menegaskan akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik,” ujar Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti.
Intervensi dilakukan melalui pasar spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder. BI juga memperkuat transaksi mata uang lokal (LCT) dengan mitra dagang.
Baca juga: Menkeu Purbaya Sebut Rumor di Pasar Jadi Penyebab Rupiah Melemah Hampir Sentuh Rp 18.000
DPR Dorong Konsolidasi Kebijakan
Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal meminta penguatan koordinasi fiskal dan moneter.
Ia menilai respons stabilisasi belum cukup terlihat di pasar.
“Sama BI juga, kita belum kelihatan,” ujarnya.
Sementara Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah menyebut rupiah berada di bawah nilai wajar.
“Rupiah seharusnya tidak melebihi Rp17.600,” katanya.
Tekanan Global Masih Dominan
Tekanan rupiah juga dipengaruhi ketegangan geopolitik, harga minyak tinggi, dan data ekonomi AS yang masih kuat.
Faktor ini memperkuat dolar dan menekan mata uang negara berkembang.
BI mencatat cadangan devisa tetap kuat di level USD146,2 miliar pada April 2026, menjadi penyangga stabilitas eksternal.
Dengan kombinasi tekanan global dan respons kebijakan domestik, pasar masih akan mencermati arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/parah-sih-kata-gue-rupiah-melemah.jpg)