Senin, 8 Juni 2026

Indeks Harga Saham Gabungan

IHSG 5 Juni 2026: Bursa Saham Kembali Ambrol 4,2 Persen ke Level 5.594

IHSG atau IDX ditutup merosot tajam sebesar 4,20 persen atau kehilangan sekitar 245,03 poin ke level 5.594,77.

Tayang:
Penulis: Bobby W
Editor: Suci BangunDS
Tribunnews.com
IHSG ANJLOK - Karyawan melintas dengan latar layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasar modal Indonesia kembali dihantam gelombang aksi jual masif pada hari Jumat (5/6/2026) menjelang penutupan bursa pekan ini, IHSG atau IDX ditutup merosot tajam sebesar 4,20 persen atau kehilangan sekitar 245,03 poin ke level 5.594,77. 
Ringkasan Berita:
  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini merosot tajam sebesar 4,20 persen ke level 5.594,77 akibat gelombang aksi jual masif menjelang penutupan pekan. 
  • Kejatuhan bursa ini tidak terjadi secara tiba-tiba di akhir sesi, sesaat setelah bel pembukaan berbunyi, grafik langsung menukik tajam tanpa perlawanan berarti dan terus tertekan sepanjang hari.
  • Sentimen negatif dan kepanikan yang merata ini pada akhirnya turut menyeret turun indeks likuid LQ45 dan indeks saham syariah (ISSI) secara serentak

 

TRIBUNNEWS.COM - Pasar modal Indonesia kembali dihantam gelombang aksi jual masif pada hari Jumat (5/6/2026) menjelang penutupan bursa pekan ini.

Hancurnya kondisi bursa saat ini bisa dilihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali terkoreksi sangat tajam sepanjang sesi perdagangan hari ini dan terpaksa ditutup di zona merah dengan penurunan yang sangat signifikan.

Kondisi ini mencerminkan kepanikan pasar yang cukup merata di berbagai sektor saham unggulan.

Berdasarkan data resmi pada papan penutupan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG atau IDX ditutup merosot tajam sebesar 4,20 persen atau kehilangan sekitar 245,03 poin ke level 5.594,77.

Kejatuhan ini tidak hanya menimpa indeks acuan utama, tetapi juga menghantam indeks saham-saham berkapitalisasi besar serta indeks berbasis syariah secara serentak.

Longsor Sejak Pembukaan Pagi

Kejatuhan pasar saham dalam negeri sebenarnya sudah terindikasi kuat sejak awal perdagangan dibuka.

Memantau visual grafik pergerakan pasar, pergerakan indeks langsung menukik tajam sesaat setelah bel pembukaan berbunyi.

Tekanan jual yang masif dari para investor domestik maupun asing membuat indeks tidak mampu memberikan perlawanan berarti sepanjang hari.

Hingga sore hari mendekati akhir sesi, tepatnya pada pukul 15.49 WIB, situasi pasar belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Indeks komposit sempat tertahan di level 5.607,49 sebelum akhirnya kembali tertekan di menit-menit terakhir menjelang prapenutupan perdagangan bursa.

Grafik pergerakan hari ini menunjukkan garis merah yang cenderung landai di area bawah setelah terjun bebas di paruh pertama perdagangan.

Baca juga: Bhima CELIOS: Rupiah Bisa Tembus Rp20.000 per Dolar pada Akhir Juni, Kelas Menengah Menyusut

Saham Perbankan Raksasa Jadi Korban Utama

Koreksi dalam yang dialami bursa hari ini utamanya dipicu oleh rontoknya harga saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps), terutama dari sektor perbankan yang selama ini menjadi penopang utama indeks.

Aksi lepas saham secara masif oleh pelaku pasar membuat saham-saham blue chip berguguran dengan persentase penurunan yang cukup drastis.

Salah satu tekanan terbesar datang dari saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang anjlok 6,45 persen ke level Rp5.075 per lembar saham.

Langkah kejatuhan ini diikuti oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang merosot 6,14 persen ke posisi Rp3.210.

Sementara itu, dua bank raksasa lainnya yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terpangkas 3,27 persen menjadi Rp3.840 dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 2,49 persen ke level Rp2,740 per lembar saham.

Tidak hanya sektor perbankan, saham sektor energi dan petrokimia juga ikut tergilas.

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengalami penyusutan sebesar 5,09 persen ke level Rp1.305, sedangkan saham komoditas seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpuruk lebih dalam dengan penurunan mencapai 7,33 persen ke posisi Rp139 per lembar saham.

Indeks Likuid dan Syariah Ikut Terpuruk

Rontoknya saham-saham papan atas secara otomatis menyeret indeks sektoral dan indeks acuan lainnya ke zona merah yang cukup dalam. Indeks LQ45 yang menjadi acuan bagi 45 saham paling likuid di bursa Indonesia mencatatkan penurunan performa yang sejalan dengan indeks komposit.

Grafik harian menunjukkan indeks LQ45 terus merosot dari posisi awal di atas level 580 hingga akhirnya jatuh ke level 557,75 pada saat perdagangan resmi ditutup.

Penurunan tajam ini sekaligus menegaskan bahwa saham-saham paling aktif di bursa pun tidak luput dari tekanan jual ekstrem.

Baca juga: Tabungan Pensiun dan Bursa Saham yang Sedang Jatuh

Kondisi yang tidak jauh berbeda juga menimpa pasar saham syariah di tanah air.

Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) harus rela kehilangan poin berharga setelah ditutup melemah signifikan ke level 194,55.

Secara keseluruhan, ambrolnya berbagai indeks acuan ini memperlihatkan sentimen negatif yang merata di seluruh lini pasar modal sepanjang hari ini.

Meskipun aktivitas perdagangan terbilang sangat ramai dengan volume transaksi yang mencapai 37,27 miliar saham serta nilai transaksi menyentuh angka Rp31,35 triliun.

Tingginya angka tersebut justru didominasi oleh transaksi penjualan. Para pelaku pasar diimbau untuk tetap tenang namun waspada dalam mencermati arah pergerakan pasar selanjutnya pada pekan depan, sembari memperhatikan sentimen ekonomi global maupun domestik yang berkembang dalam beberapa hari ke depan.

(Tribunnews.com/Bobby)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved