Minggu, 31 Agustus 2025

Virus Corona

Virus Corona Mudah Jangkiti Warga yang Terpapar Polusi Udara? Guru Besar UI Beri Penjelasan

Prof Budi pun menyebut, “artinya, Covid-19 sangat mampu memperparah dampak kesehatan akibat perubahan iklim."

Freepik
ilustrasi virus corona 

Prof Budi pun menyebut, “artinya, Covid-19 sangat mampu memperparah dampak kesehatan akibat perubahan iklim."

Dengan latar belakang berbagai riset tersebut, Koalisi Ibukota yang merupakan gabungan individu maupun organisasi yang memperjuangkan hak atas udara bersih, meminta kepada pemerintah Indonesia untuk berani segera membuka data sumber emisi.

Hal itu ditujukan untuk dapat mengetahui sumber emisi apa saja yang hingga kini masih
menyebabkan angka pemantauan Indeks Kualitas Udara tetap terbilang buruk.

Polusi udara yang setiap tahun bisa menyebabkan kematian hingga jutaan jiwa di seluruh dunia,
seharusnya sudah sejak lama membuat pemerintah menyusun strategi untuk segera menyelesaikan masalah pencemaran udara.

Pemerintah memang telah mengeluarkan imbauan bekerja dari rumah (WFH) hingga
memberlakukan peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak pekan pertama April 2020.

Imbauan dan aturan yang ditujukan untuk mencegah penularan virus Covid-19 itu dianggap
sebagian masyarakat turut berhasil mengurangi polusi udara.

Namun kebijakan itu sendiri dibuat hanya sebatas untuk mencegah penularan virus Covid-19.

Bukan untuk secara beriringan memperbaiki kualitas udara yang sesungguhnya memiliki pengaruh untuk mengurangi angka pasien ataupun kematian akibat Covid-19.

Tidak dibarenginya perbaikan kualitas udara yang signifikan di masa pandemi ini dapat dilihat dari
catatan indeks kualitas udara.

Berbagai lembaga riset kualitas udara mendapati bahwa tingginya pencemaran udara nyatanya berbanding terbalik dengan pemandangan langit cerah di Jakarta dan kota-kota penyangga.

“Meski langit Jakarta terlihat lebih cerah ketika diberlakukan WFH dan juga PSBB, tetapi emisi dari
salah satu sumber pencemar yaitu PLTU bisa jadi tidak mengalami pengurangan yang signifikan. Ada potensi polutan tersebut juga berkontribusi pada polusi udara di Jakarta dan kota tetangganya,” ujar Bondan Andriyanu, Juru kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

Bondan melanjutkan, kondisi tersebut membuat urgensi buka data emisi kepada publik sebagai hal
yang mendesak, terlebih dalam situasi sekarang.

“Masyarakat berhak tahu polusi udara yang mereka hirup ini porsinya bersumber dari mana saja, karena berpotensi membahayakan kesehatan, apalagi di masa pandemi Covid-19 saat ini,” tutur dia.

Sementara peneliti dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Fajri Fadhillah,
menegaskan bahwa pencemaran udara telah menyebabkan banyak masalah kesehatan serta
lingkungan.

Lambannya pengendalian pencemaran udara yang seharusnya dilakukan pemerintah,
akhirnya kini memperparah risiko gejala penyakit yang berhubungan dengan Covid-19.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan