DPR RI

Delegasi Parlemen Timor Leste Kunjungi DPR RI

Tiga isu krusial disampaikan delegasi Parlemen Timor Leste saat berkunjung ke DPR RI.

Delegasi Parlemen Timor Leste Kunjungi DPR RI
DPR RI
Delegasi Parlemen Timor Leste berkunjung pada Kamis (20/10) 

TRIBUNNEWS.COM - Tiga isu krusial disampaikan delegasi Parlemen Timor Leste saat berkunjung ke DPR RI.

Ditemui Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR Nurhayati Ali Assegaf, tiga isu krusial itu menyangkut dua wilayah perbatasan yang masih disengketakan, makam tokoh Timor Leste yang wafat saat konflik dengan Indonesia, dan keanggotaan penuh di ASEAN.

Demikian mengemuka saat delegasi Parlemen Timor Leste berkunjung pada Kamis (20/10).

Dipimpin Virgilio da Costa Hornal, Parlemen Timor Leste menyerukan agar wilayah perbatasan yang masih disengketakan tidak memecah persaudaraan kedua negara.

Ada dua wilayah perbatasan yang belum mendapat titik temu soal garis batasnya.

Indonesia dan Timor Leste perlu menyamakan persepsi sebelum menyelesaikan garis batas.

Hornal sempet mengundang delegasi DPR agar mendatangi wilayah perbatasan yang disengketakan tersebut.

Nurhayati sendiri mengatakan, DPR sangat konsen dengan isu perbatasan ini. Dan DPR sendiri segera membicarakan sengketa perbatasan ini dengan pemerintah.

Isu kedua menyangkut para tokoh pejuang Timor Leste yang wafat di wilayah Indonesia dan hingga kini belum ditemukan makamnya.

Mereka wafat saat perang dan konflik terjadi di tahun 1970-an dan 1990-an.

Parlemen Timor Leste didesak oleh keluarga para tokoh tersebut untuk segera memulangkan jenazahnya yang mungkin masih ada di Indonesia.

Menanggapi soal ini, Nurhayati hanya mengatakan akan membincang dengan DPR dan pemerintah, karena ini masalah baru.

Sementara isu terakhir menyangkut keinginan Timor Leste agar bisa diterima sebagai anggota penuh ASEAN yang selama ini masih menjadi observer.

Nurhayati menyatakan, Indonesia sangat mendukung Timor Leste soal ini.

“Kami dukung penuh Timor Leste. Di kawasan ASEAN, 40 persen perekonomian ASEAN ada di Indonesia. Walau Indonesia negara besar, tapi kami tidak menempatkan sebagai penguasa, melainkan big brother,” ujar Nurhayati.

Pertemuan kedua parlemen ini penuh keakraban dan persaudaraan.

Nurhayati bahkan memuji para anggota Parlemen Timor Leste yang masih fasih berbahasa Indonesia.

Ini bisa menjadi jalan kemudahan untuk kembali mempererat hubungan kedua negara.

Luka lama harus segera dilupakan. Kini, keduanya harus menjalin hubungan yang erat agar kehidupan rakyat di kedua negara juga tidak terganggu. (Pemberitaan DPR RI)

Editor: Advertorial
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved